25.8.09

Garut, 23-24 Mei 2009

Perjalanan ke Garut terdiri atas 3 kloter, kloter pagi, siang, dan malam. Pembagian kloter based on kesibukan masing-masing peserta, ada yang harus kerja di hari Sabtu Ceria :) Kloter pagi itu gw, mba Anita, mba Eko, Iem, dan mba Deny, dengan menumpangi mobil mba eko dengan driver sewaan. Kloter kedua, Faisal sendiri dengan menumpangi bis dari Lebak Bulus dan tiba di Garut sekitar jam setengah 6 sore. Kloter ketiga, Ryan, Kikid, dan Pipiet, dengan menumpangi mobil Ryan dengan driver Ryan sendiri dan tiba di Garut sekitar jam 12-an malam.

Kloter pertama, janjian berangkat dari mal Ambasador, dan gw yang berangkat dari Depok, nungguin di Tanjung Barat depan gedung ANTAM. Start dari Jakarta terhitung jam 7 kurang lima menit. Langsung masuk tol Tanjung Barat sampai Tol Cileunyi Bandung. Keluar tol mulai liat-liat petunjuk jalan menuju Garut. Belum pernah dari tim kloter pagi yang pernah ke Garut bawa mobil sendiri bahkan driver nya sendiri. Jadilah kita bermodal peta dan petunjuk jalan serta bis-bis yang melaku menjadi petunjuk arah. Ga susah menemukan jalan menuju Garut.

Candi Cangkuang
Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Candi Cangkuang yang terletak di tengah Situ Cangkuang. Candi Cangkuang berada di desa Leles, sekitar 14 km sebelum kota Garut. Petunjuk arah yang kami gunakan adalah peta wisata yang gw punya, dan peta wisata Garut yang gw foto dari billboard yang ada di pinggir jalan memasuki wilayah Garut, plus modal berhenti di setiap keramaian menanyakan orang-orang di jalanan agar tidak kelewatan. Dari desa Leles dekat dengan pasar ada persimpangan di sebelah kiri. Jalan ini sempit, jika dilewati 2 mobil dari arah yang berbeda mobil yang satu harus berhenti untuk minggir dulu. Jarak dari simpang pasar menuju ke Situ Cangkuang sekitar 3km.

Situ Cangkuang terletak dipinggir jalan desa Leles, jadi tidak begitu sulit untuk menemukan lokasi situ. Lokasi parkir lumayan luas, ketika kami kesana, tidak begitu banyak mobil yang parkir, apa karena kepagian atau memang bukan hari berlibur :D. Untuk masuk lokasi Situ Cangkuang dipungut biaya retribusi sebesai Rp. 2.000/orang, cukup murah. Untuk menyebrang ke lokasi candi disedikan perahu rakit yang dikenakan biaya per orang sebesar Rp 3.000 untuk pulang pergi. Jarak tempuh hanya berkisar 100m. Perahu rakit akan berangkat jika penumpang telah berjumlah 20 orang. Karena tidak mau berlama-lama menunggu kami memutuskan untuk bergabung dengan satu keluarga yang juga males nungguin sampai penuh 20 orang. Tawar menewar ternyata harga ga turun dari 60.000/perahu. Tetep aja 3.000 x 20 orang nih. Karena kami lebih sedikit cuma ber-enam, kami bayar Rp. 25.000 keluarga si Bapak 35.0000. Sip! Berangkat… View nya bagus dengan latar belakang gunung, yang gw ga tau itu gunung apa. Bentuk perahu rakitnya pun unik, terbuat dari susunan bambu yang melintang. Perahu pun menjadi tempat foto narsis yang pertama. :)

Candi Cangkuang sendiri hanya terdiri dari satu candi. Umumnya seperti candi-candi yang lain, candi Cangkuang berbentuk persegi empat yang tidak ada ciri khas tersendiri. Candi Cangkuang ditemukan tahun 1966, diteliti dan digali selama 2 tahun dan dipugar tahun 1974-1976. Dibalik Candi Cangkuang terdapat makam Eyang Embah Dalem Arif Muhammad, yang gw juga ga tau sih, beliau ini siapa. Pada awal ditemukan lokasi Candi Cangkuang ini dikelilingi oleh Situ Cangkuang, jadi seperti pulau ditengah danau. Namun, sekarang Situ Cangkuang tak lebih dari seperempatnya, lokasi situ yang dangkal telah dimanfaatkan petani sebagai lahan per-sawah-an mereka. Di lokasi candi juga banyak ditemukan makam warga.

Di lokasi lain, terdapat Komplek Kampung Adat Kampung Pulo. Di lokasi ini terdapat beberapa rumah adat masyarakat setempat, dan sebuah mesjid kecil yang menyerupai rumah, sangat tidak mirip dengan mesjid, hanya ada plank di depan rumah dengan tulisan “Mesjid Kp. Pulo”.

Di lokasi Candi Cangkuang banyak penduduk yang jualan cinderamata yang mirip dengan daerah lain dari segi jenis cinderamata yang dijual. Yang membedakan adalah, adanya miniatur dari perahu rakit yang terbuat dari susuanan bambu, harga sebuah miniatur rakitan perahu ini sebesar Rp. 10.000. Ada juga penjual jagung bakar dan kerupuk yang terbuat dari ketan.

Ketika hendak pulang nyebrang lagi ke pintu gerbang, keluarga si Bapak yang bareng dengan kami udah gelar tiker…kelihatannya lama nih. Kita akhirnya nego dengan tukang rakit untuk nganterin kami lebih dulu dengan extra cost sebesar 10.000, ya ga pa pa lah, dari pada wasting time nungguin tuh keluarga selesai ngaso disana.

Sehabis dari Candi Cangkuang, makan dulu di Rumah Makan Sari Cobek. Maknyus…walau pelayanan agak lelet dan sempet hendak membuat mba Anita emosi jiwa… hehehe… peace mba Nit…gw setuju kok, masalah perut ga ada kompromi hahahaa…

Situ Bagendit
Tujuan berikutnya adalah Situ Bagendit. Situ Bagendit merupakan danau terluas yang terdapat di daerah Garut. Lokasi danau ini melewati daerah Cipanas, Garut, kemudian di persimpangan pilihan jalan hanya kiri dan kanan, kanan menuju Garut kota dan kiri menuju daerah Situ Bagendit, jaraknya sekitar 12 km dari persimpangan teresbut.

Untuk masuk lokasi Situ Bagendit, dipungut biaya retribusi sebesar Rp.3.000/orang. Memasuki lokasi Situ Bagendit ini sendiri sudah udha ga mood sebenarnya, sudah terlihat ketidakrapihan dan ketidakbersihan lokasi. Memasuki lokasi banyak tenda-tenda pedagang yang mengganggu pejalan kaki. Situ nya juga ga bersih, banyak rumput liar di danau nya. Sayang sekali pemerintah kota Garut tidak memperhatikan objek wisata ini, padahal view nya bagus… Taman rekreasi dengan kereta api mini yang dijadikan sebagai sarana untuk mengelilingi lokasi kurang terawat. Tamannya juga kotor, ga banget deh… Ada juga disediakan sepeda air yang bisa digunakan untuk bersantai mengelilingi danau.

Di lokasi situ ini Iem malah ketemu teman kuliahnya yang juga sedang liburan di situ ini. Temannya sih orang Garut, jadi wajar aja, tapi suatu kejadian yang unik juga. Gw sempet bilang ama Iem, “jangan sampai ketemu orang Sidikalang aja disini” hahhaa… Jauh-jauh ke Garut ketemu orang Sidikalang kan kocak juga.

Karena tempat ini tidak begitu menarik, kami ga betah berlama-lama disini. Sebenarnya dari plan sebelumnya untuk hari ini tujuan terakhir adalah pemandian air panas Cipanas Garut, tapi karena masih jam 2. Kami pun mencari tempat lain di buku sakti dan ada tulisan “Kawah Kamojang”. Bersumber dengan bertanya kepada orang-orang sekitar, kami pun meluncur menuju Kawah Kamojang.

Kampung Sampireun
Saat menuju Kawah Kamojang, ngobrol-ngobrol di mobil. Mba Anita mengusulkan singgah di Kampung Sampireun karena penasaran sekeren apa sih Kampung Sampireun karena ketika mendengar talk show di salah satu radio swasta Jakarta *halah!*, ada penelpon yang menjawab “Kampung Sampireun” ketika ditanya pertanyaan “Tempat apakah yang paling kamu ingin kunjungi di dunia ini??”. Jawaban si penelpon membuat mba Anita penasaran habis ada apakah di kampung Sampireun sampai membuat sipenelepon menjadikan Kampung Sampireun sebaagai the most interesting place to be visited in the world… Ga ada tempat lain apahhh?? Di Indonesia sendiri kayaknya masih banyak banget tempat yang jauh lebih menarik dan jauh lebih woowwww…dari Kampung Sampireun. Ga pernah liat di TV atau baca tentang Raja Ampat di Papua, Karimun Jawa di utara Semarang, Gili Trawangan di Lombok, atau Ujung Genteng di selatan Jawa Barat kali tuh orang.

Petunjuk arah menuju Kampung Sampireun sangat jelas, setiap persimpangan ada petunjuk arah yang dibuat sendiri oleh pengelola dan jarak tempuh-nya. Kampung Sampireun dari design memang cukup unik. Untuk menuju kamar-kamar penginapan di sediakan perahu khusus, karena kamar-kamar terletak di atas danau di pinggiran danau buatan. Danau ga terlalu begitu luas. Harga penginapan di Kampung Sampireun juga mahal banget…rata-rata di atas sejuta…kalo kata mba Anita mending nginep di Marriot dengan harga segitu hahahaa…

Foto-foto bentar di Kampung Sampireun sebagai pertanda udah pernah “mengunjungi” Kampung Sampireun. Gw sih sempet meninggalkan jejak di Kampung Sampireun dengan nongkrong bentar di toilet, mules banget soale dah ga kuat hehehe… *jorok deh lu Pla!!!* Toilet nya bersih dan unik, dari bilik bambu yang modern… :D

Kawah Kamojang
Perjalanan dilanjut menuju Kawah Kamojang. Dari Kampung Sampireun tinggal lurus terus mengikuti jalan besarnya. Perjalanan mulai mendaki dan berkelok-kelok. View-nya keren… ga heran kalau di bilang Garut itu Swiss Van Java, setuju! Keren banget view sepanjang perjalanan. Kiri gunung kanan gunung depan gunung belakang gunung. Sip margosip top markotop dah!!! Jendela mobil pun di buka untuk menikmati udara segar pegunungan Garut… mauliate ale Debata…

Memasuki wilayah Kamojang, terdapat PLTG, Pembangkit Listrik Tenaga Gas, punya Pertamina. Kawasan PLTG ini rapi dan bersih bangetttt… Terawat banget deh… Cerobong-cerobong pembangkit listrik dan peralatan yang besar-besar membuat kawasan ini menjadi keren untuk di lihat. Pipa-pipa besar berwarna silver yang mengalirkan gas ke pembangkit juga membuat tempat ini seperti dipageri. Di kiri kanan jalan kadang terlihat gas-gas tersembut dari tanah. Agak-agak horor juga lewat sini. Gimana kalo ada pipa yang bocor atau tiba-tiba meledak…jangan sampai deh…

Kawah Manuk
Jalan beraspal berujung dengan jalanan berbatu yang lebih cocok buat mobil off-road. Setelah jalan berbatu disebelah kiri terdapat kawah pertama. Kawah Manuk! Kawah ini kawah berwarna hitam pekat yang mengeluarkan udara panas. Di beberapa bagian masih terlihat letupan-letupan gas kecil. Aroma belerang mulai tercium di kawah ini. Foto-foto narsis dimulai…

Perjalanan dilanjutkan, sekitar 200m kedepan terdapat parkiran dan pintu gerbang yang dijaga petugas. Retribusi 5.000/orang. Turun dari parkiran semangat berjalan kaki menuju kawah berikutnya. Gumpalan-gumpalan asap yang terlihat di udara membuat semangat terpacu untuk segera berada di kawah. Aliran air panas terlihat di sisi sebelah kiri jalan menuju kawah.

Kawah Kereta Api
Kawah berikutnya adalah kereta api. Disebut kawah kereta api karena kawah ini menyemburkan gas dari lobang kecil berdiameter sebedar botol Aqua 600ml, yang kalo di halangi dengan benda lain akan mengeluarkan bunyi seperti bunyi kereta api, tuuttt…tuttt…tuttt…. Seorang kakek tua begitu melihat rombongan kami datang langsung masuk ke kawah yang di pagerin untuk beraksi di depan kami, pertama dengan memasukkan boto-botol kosong ke mulut kawah yang akhirnya terlempar jauh ke atas… kemudian menutup buka lubang kawah sehingga mengeluarkan bunyi tut tut kereta api, trus membakar sebatang rokok di kawah yang berupa gas sehingga asap kawah menjadi besar, aksi ini dilakukan berulang-ulang untuk menarik perhatian pengunjung yang dateng. Ada rombongan lain dibelakang kami yang jauh lebih narsis dari kami, mereka langsung nyerobot wilayah kawah kereta api untuk foto-foto, sial!!! Padahal kami belum kelar. Ibu-ibu centil juga langsung masuk ke kawah untuk foto-foto dengan bapak tua tadi dan beraksi bareng si pak tua. Kami pun tersingkir dari kawah kereta api.

Kawah Ujung
Nama kawahnya gw ngasal aja, ga ada namanya sih, cuma letaknya di ujung hehehe… Kawah ini agak berantakan, ada kawah yang mengeluarkan air panas, jadi tersembur-sembur keluar gitu dari himpitan batu sesuai tekanan bumi. Ada 2 tempat seperti itu, satu lumayan gede, yang jarak semburan airnya jauh, satu lagi kecil, yang semburannya paling berjarak 1 meter. Ada juga semburan gas panas dimana diatasnya ditaro kayu yang kayu nya bisa kebakar… Banyak pengunjung yang senang foto dibagian ini, karena lagi-lagi si Bapak tua meniup gas dengan bantuan rokonya yang menyebabkan asap mengebul dan orang-orang heboh foto dibalik asap tebal… *including me ;)*

Balik dari Kawah Kamojang udah mulai gelap sekitar jam 5:30 gitu, o’o…kabut banget di jalan, jarak pandang ga nyampe 5 meter. Mobil melaju pelan-pelan sambil berdoa mohon keselamatan, daerah pegunungan, sebelah kanan jurang cuy… Saat jalan balik, Faisal nelpon ternyata dia udah nyampe terminal Garut. Kita meluncur ke Terminal Garut, sejam kemudian baru nyampe, maaf Sal… Jalanan hujan lagi, so super hati-hati bro…

Air Panas Cipanas, Garut
Dari terminal Garut dilanjutkan menuju daerah Cipanas, sesuai rencana kami akan menginap di daerah Cipanas sekalian berendam air panas. Kami belum booking penginapan sebelumnya, karena berdasarkan informasi yang gw baca di blog orang-orang, banyak penginapan mahal dan murah tersebar di sepanjang jalan di daerah Cipanas. Di ujung jalan banget, kami parkir untuk nyari penginapan, hal menyebalkan langsung dateng. Para calo vila mendekati kami bak artis ibukota yang datang untuk konser, para calo vila mengejar-ngejar kami seolah mau meminta tanda tangan *lebayyy abisss*. Para calo berusaha memikat hati kami dengan memberikan tawaran-tawaran ukuran kamar, not price, padahal concern utama kami adalah harga. Gw dan mba Eko yang turun nyari penginapan. Jalan sendiri keluar masuk ke beberapa penginapan. Karena kami ber-7 termasuk driver kami berusaha mencari kamar yang cukup besar agar dapat menampung kami bertujuh, jadi sharing kamarnya murah hehee… Rata-rata harga kamar yang bisa diisi berempat seharga 200.000,- (2 kasur dan kamar mandi dalam). Setelah diskusi dengan team daerah tersebut kurang nyaman karena dekat tempat parkir dan berisik banget dan kemahalan juga, karena denger-denger juga penginapan disana biasa juga range harganya 100-150.000,-. Kami memutuskan mencari penginapan agak ke bawah yang jauh dari keramaian. Selama nyari eh malah lebih mahal-mahal lagi hahaha… Harus sabar… akhirnya kami makan dulu, nyari tempat makan ke arah kota Garut.

Setelah makan akhirnya kami mendapatkan penginapan dengan harga sama dengan harga yang kami dapat di atas tadi hehhee… sekamar Rp. 200.000,- satu kamar, di isi ber-enam plus satu extra bed. Driver ga mau gabung, padahal udah dipesenin extra bed, dia milih tidur di mushola.

Jam 12-an, kloter malam tiba di Garut, tidurku tergangguuu… Gw yang ditelpon-telpon mulu, dasar kalian ini…!!! Mereka mesen 1 kamar khusus karena gimana pun kamar kami ga mungkin cukup untuk ditambah 3 orang secara satu kasur aja udah diisi bertiga…

Gunung Papandayan
Pagi-pagi jam 4:30, Kikid udah miskol-miskol gw untuk bangunin berangkat ke Papandayan. Langsung krasak-krusuk semua, kecuali mba Anita dan Mba Eko yang masih ngantuk, kami siap-siap nge-sun rise di Gunung Papandayan. Gunung Papandayan berjarak 22 km dari kota Garut, Cipanas ke Garut 5 km, jadi 27 km. Kami dengan menumpangi mobil Ryan ber-7 menuju Gunung Papandayan. Pagi-pagi yang dingin hoaahmmm… Jalanan mendaki dan lumayan berliku apalagi setelah mendekati Gunung Papandayan. Apa daya, ternyata kami tak sempat nge sun rise di Gunung Papandayan, ditengah perjalanan matahari dengan tersipu malu muncul di balik awan yang tipis, kerennnn…. Padahal ga jauh lagi udah nyampe di kawasan kawah Papandayan. Gagal nge-sunrise di Gunung Papandayan!

Kawasan Gunung Papandayan sudah menjadi objek wisata yang umum bagi para backpacker/pelancong. Untuk para pendaki pemula, Gunung Papandayan bisa dijadikan alternatif. Mobil bisa tiba di parkiran luas dekat dengan kawah. Hiking menuju kawah hanya memakan waktu paling lama 1 jam, itu pun udah berhenti beberapa kali untuk foto-foto. View Kawah Papandayan pagi itu keren banget, langit yang biru bersih dan gumpalan asap kawah dan warna kuning kecoklatan tanah dan tebing membuat Gunung Papandayan sangat keren menjadi tempat untuk foto.

Secara alami team pendaki terbagi jadi 2 team, gw, Iem, Fai, mba Deny menjadi team pertama yang lebih dulu naek. Team kedua Ryan, Kikid, dan Pipit menjadi team kedua. Secara alami karena kami berempat mendaki secara seksama *halah!* dan kalau berhenti ga lama untuk foto-foto. Sementara team kedua foto di satu tempat lama nya ampun-ampun. Jadilah kita bosen nungguin dan melanjutkan perjalanan menuju puncak…

Mendaki jangan buru-buru, karena akan menguras banyak tenaga, bawa bekal secukupnya terutama air minum. Jangan memaksakan kalau cape, mending ajak team untuk istirahat bentar. Team kami sendiri berhenti beberapa kali dibeberapa tempat karena cape dan mulai morning call. Kawah Papandayan ada beberapa tempat, keren… Tapi hati-hati saat mendaki, jangan sampai kepeleset dan jatuh ke kawah, karena kata seorang bapak waktu lewat disana, ada yang jatuh beberapa waktu yang lalu dan kakinya melepuh…wah…hati-hati teman!

Melewati kawah kami team pertama mencoba untuk bergerak terus menuju puncak, katanya sih ada padang Edelweis disana. Pendakian makin berat, mayan curam. Kami extra hati-hati untuk mendaki. Jangan salah menginjak batu ya, tiba-tiba nginjek dan batu ga kuat bisa jatuh kepeleset, seperti yang kami alami beberapa kali. Mendekati puncak Faisal sudah tak kuat menahan panggilan alam. Dengan bermodal sisa air minum dia pun melaksanakan panggilan alam di puncak Gunung Papandayan, awal nya ga pede, sampai kasih peringatan ke kami bertiga, “Jangan liat gw boker ya!!! Jangan liat ke belakang!!!” Halah,,,ngapain juga ngeliatin orang boker, dasar lu Sal ah….ada-ada aja. Seru juga ya boker di puncak gunung, dengan pemandangan alam yang keren. Pasti banyak inspirasi-nya tuh…

Gw ama Iem naik lebih ke atas lagi. Mencoba melihat ada apa dibalik sana. Ternyata masih ada jalur pendakian lain dan tempat camping. Kami juga belum menemukan padang Edelweis yang disebut-sebut. Sebenarnya ada jalur pendakian lain untuk menuju kawah Papadayan ini di dareah Cikajang, waktu tempuh dari tempat ini 3 jam.

Ngaso di Puncak, beberapa waktu lama kemudian team kedua nyampe juga…Lamaaaa…dasar team narsis abisss… Setiba mereka di atas, ga lama langsung turun, kami udah bosen nungguin di atas dan panas terik matahari mulai berasa di kulit. Seperti biasa, jalan turun itu lebih cepat dibanding pada saat naik, tapi lebih sulit karena harus ngerem kaki dan membuat kaki jadi pegel abis.

Tiba diparkiran langsung mesen Indomie rebus dobel pakai telor…wah sedaaaaappp… Sehabis makan Indomie perjalanan dilanjutkan menuju Curuk Orok. Mba Anita dan Mba Eko sudah nunggu ditengah perjalanan, katanya mereka da sempet naik ke parkiran tapi mba Anita ga kuat dengan aroma belerang yang terlalu pekat dan mereka akhirnya turun.

Curug Orok
Perjalanan menuju Curug Orok ternyata lumayan jauh juga, sekitar 15 km dari Papandayan. Arahnya sendiri kita selalu bertanya di sepanjang jalan, best practice kalau ga tau arah ;). Akhirnya tiba di satu lahan perkebunan teh yang sepertinya kurang terawat, beda dengan kebun teh yang biasa gw lihat, kebun tehnya ini kesannya kok dianggurin ya? Masuk ke lokasi curug Orok ini kurang jelas, ga ada petunjuk arah yang jelas ditemukan dijalan. Untung kita rajin bertanya, hampir kelewatan.

Digerbang masuk kita membayar retribusi yang gw lupa persisnya berapa, kalau ga salah sekitar 10rb per orang, komponen duitnya itu termasuk biaya masuk ke curug dan bisa berenang di kolam renang yang ada dekat curug. Setiba di parkiran, terlihat curug mengalir deras dari atas. Ketinggian curug sekitar 20m. Dan kita harus turun ke bawah untuk bisa main air dibawah. Di sekitar jalan menuju curug orok ini, penduduk sekitar, yang ga tau milik pribadi atau bukan, ditanami wortel.

Curug Orok ini ga terawat, tempat untuk ganti pakaian dibawah itu ga ada. Ada gubuk darurat yang ga layak untuk tempat ganti pakean kalo mau basah-basahan dibawah. Hal yang beda dari curug ini, ada dua buah aliran air, pertama yang dari atas ketinggian sekitar 20m, air nya coklat, dan buat males mandi di curug. Yang kedua airnya seolah keluar dari goa dari dalam tanah gitu dan airnya itu bersih jernih, tapi air jatuhannya itu ke bebatuan, jadi ga bisa main langsung dibawah aliran airnya. Dan karena air yang coklat itu mengalir ke air yang jernih jadinya airnya semua coklat yang dibawah. Kita jadi hanya foto disini, dan langsung menuju kolam renang.

Di kolam renang ini kita sempat marah-marah, karena ternyata harus bayar lagi. Sementara di depan retribusi kita disebut sudah termasuk mandi di kolam renang. Karena udah pengen renang akhirnya kita bayar lagi, sekalian mandi sih soalnya, dari pagi kita belum mandi, jadi mandi disini deh. Kolam renangnya kecil banget sebenarnya, 7x5 meter kalo itungan gw. Airnya jernih tapi dingin banget. Yang nyebur itu, gw, fai dan ryan, dan selama di kolam renang kita menjadi model buat para cewe2 fotografer itu.

Sehabis dari curug ini kita langsung balik tapi menuju Bandung, karena Faisal inisiatif ngajakin ke Ciwidey, Kawah Putih, Kebun Teh Rancabali, dan Situ Patengang keesokan harinya. Peserta yang ke Bandung gw, Fai, Mba Deny, Iem dan Pipit, sementara Ryan dan Kikid abis makan bareng di Bandung balik ke Jakarta, dan mba Anita dan Mba Eko udah lebih dulu balik ke Jakarta. Karena di blog ini udah 2 kali ngebahas perjalanan ke Ciwidey dan Kawah Putih, jadi ga usah diceritain lagi ya...walau pun gw tau, setiap perjalanan punya kisah tersendiri.. :)

19.5.09

Semarang & Karimun Jawa, 8 – 13 April 2009 - part 2

Day 4 - Sabtu, 11 April 2009, Heading to Karimun Jawa, Pulau Cemara Kecil, Tanjung Gelam
Sabtu pagi, jam 7:30 udah jalan meninggalkan penginapan. Naik taksi langsung ke pelabuhan Tanjung Mas Semarang. Dari penginapan ke pelabuhan hanya setengah jam, Semarang memang ga ada macet-macetnya deh, sejauh gw disana ya… Tiba di pelabuhan udah terlihat kapal cepat Kartini, Karimun Jawa Ocean Park. Udah rame tuh orang-orang foto-foto dengan background kapal cepat Kartini, as usual lah untuk dokumentasi perjalanan hahaha… 

Hasrat pengen narsis sudah menggebu dalam dada ini, weksss…parah bet!, tapi apa daya harus beli tiket dulu karena kami ga beli hari sebelumnya. Antri belinya, harga tiket Rp. 105.000 plus asuransi Rp. 6.000 total Rp. 111.000,-, Ryan, Mba Eko, dan Mba Deny, langsung beli tiket PP untuk balik hari Minggu, total Karimun – Semarang dengan kapal yang sama Rp. 109.000,- beda 2 rebu!!! Total mereka bayar jadinya Rp. 220.000,-.

Fyi, kapal ke Karimun ga ada tiap hari, untuk kapal cepat dari Semarang, hanya sekali seminggu naek fery cepat, yaitu tiap Sabtu, jam 09.00 tiba di Karimun sekitar 3.5 – 4 jam, tergantung angin. Kapal Kartini ini balik dari Karimun Jawa – Semarang hari Minggu jam 14:00. Kalau mau dari Jepara berangkat tiap Rabu dan Sabtu jam 09.00. Untuk info lengkap bisa telpon ke nomor berikut ini, sekalian nanya fery-nya jalan apa engga, karena kalau angin kencang fery ga akan jalan, seperti bulan Jan- Feb 09 kemaren benar-benar ga jalan tuh fery (based on information dari penduduk setempat):
- KMC Kartini I (dari Semarang)
Dinas Perhubungan dan Telekomunikasi Propinsi Jawa Tengah
Jalan Pamularsih no.28 Semarang
Telepon (+62-24)7602952
Fax (+62-24)7622536
- KMP Muria (dari Jepara)
PT ASDP cabang Jepara
Jalan Kolonel Sugiono no.290 Jepara
Telepon (+62-291)591048

Setelah beli tiket kapal, kami, tepatnya Mba Eko, nyari makan di sekitar pelabuhan. Ketemulah penjual nasi gudeg, yang satu porsinya Rp. 7.000, mba Eko pun membeli 10 bungkus. Duduk nge-gembel di pelabuhan sambil makan, sedap dah… ini baru backpacker hahhaa… *seolah-olah yang disebut backpacker itu harus selalu menderita hehhee…*

Di pelabuhan ada tante yang exist banget, tante baju merah…narsis banget sih tante, kenalan dong… huahahaa… Di pelabuhan juga terlihat si bule yang sering masuk tv di acara bule gila, udah terkenal juga sih nih bule, gw aja lupa namanya. Lagi shooting acara jalan-jalan sepertinya dari Trans 7. Mba Eko sewot liat tuh bule, karena dia nyapa si bule dia dicuekin hahaha… sabar tante Eko…di tv bisa aja orang kelihatanya ramah, tapi di kehidupan nyata ya begitulah…

Perjalanan di mulai jam 9 teng, on time banget! Good work!!! Ruangan di kapal fery nya ber AC, pewe deh. Baru masuk juga udah disedian suguhan lagu-lagu yang ada teksnya, hampir gw mau karoke, diri didepan dan nyanyi sambil joget hahahaa…narsis abis dah… mo gimana ya, panggilan jiwa sepertinya, weksss… Gw terasing sendiri di nomor duduk 10A, sementara 5 teman lainnya ngurut dari 12A-12E *tul kan ya…*. Gw rada males liat cewe di sebelah gw, agak-agak nyolot, ga yakin gitu dia gw duduk di situ, dia minta tiket gw untuk mastiin, untung gw lagi nelpon mas Ari, yang punya penginapan di Karimun Jawa, gw kasih aja tiket gw, dia cek, trus dia ngangguk-ngangguk dan pergi. Sialan nih cewe, udah ngecekin toh ga duduk disitu…shut!!! Jadi cewe biasa aja napah…jangan rese…mending cakepp… hahahaa… *again, seolah-olah kalo cakep bisa rese… :P*

Main UNO di ferry
Masih awal perjalanan, hasrat main UNO udah menggebu. Udah cari-cari tempat yang pewe untuk maen UNO. Gw nanya petugas yang kebetulan duduk di belakang gw apa udah bisa keluar pa belum. Belum bisa, karena harus pemeriksaan tiket dulu. Sip dah. Abis pemeriksaan tiket si bapak langsung mengijinkan keluar dari fery. Kita keluar ke depan fery, kirain asik, eh panas nya ampun-ampun. Susah juga maen UNO. Ga jadi, kita masuk lagi, perjuangan pencarian tempat maen UNO dilanjutkan *halah!*, jalan keluar ke bagian belakang fery. Sip, nemu deh, agak-agak nyempil dikit sih. Kita dengan cuek nya main UNO di fery padahal rame banget. Kita teriak-teriak dan ketawa-ketawa waktu PAL orang-orang pada ngeliatin. 

Udah mulai bosen dan mulai pusing karena ombak makin kerasa, eh malah ada seorang bule bernama Bastian, bule Jerman, mau join main UNO. Yah, terpaksa deh main lagi, padahal gw udah mau masuk, Ryan juga da bilang pengen stop. Akhirnya kita maen berempat, gw, Ryan, Faisal ama si Bastian. Sambil maen nanya-nanya Bastian, ternyata dia guru di Pekalongan udah 6 bulan, jadi bule Pekalongan dia. Ngajar bahasa Inggris di sekolah Muhammadiyah. Tapi baru-baru ini dia pindah ke Semarang jadi dosen. Entah kenapa maen berempat mainnya cepet banget, dan tiba-tiba Ryan yang biasa kalah menang di permainan ini. Si Bastian selalu kalah kalau PAL, dan selalu bottom 2 bareng gw hahhaahaha…

Karimun Jawa
Perjalanan 4 jam terlewati sudah, sejam terakhir sih gw tidur, pusing banget… Bangun-bangun udah pengumuman siap-siap turun di Karimun Jawa. Mas Ari, yang punya penginapan yang akan kami tinggali, nelepon gw, ngasih tau posisi ketemu dimana. Ketemu mas Ari dengan topi Trans 7 nya. Kenalan dulu, trus mas Ari nge-jelasin cara jalan ke penginapan dia, lurus, kiri, kanan, kiri, lurus terus, persimpangan kedua ke kiri, ada tempat duduk banyak diluar. Sip dah…Karimun Jawa memang bukan kota yang besar. Kami memang memilih jalan kaki, karena jaraknya paling jauh 1km kata mas Ari, kalau mau nyewa mobil, satu mobil Rp. 30.000,- disedian oleh mas Ari, tapi penghematan mending jalan deh.

Welcome to Karimun...
Tulisan Selamat Datang di Karimun Jawa menyambut kami dan menyatakan kami telah resmi menginjakkan kaki di Karimun Jawa. Berjalan sesuai petunjuk arah yang diberikan mas Ari. Sambil jalan kami sekali-sekali di cek ama mas Lukman, temannya mas Ari, yang memastikan kami ga salah jalan. Baik sekali mas Ari ini, customer is the king :P. Jalan sekitar 20 menit nyampe juga di penginapan Karimun Indah punya mas Ari. Disambut dengan makan siang prasmanan. Ternyata disana sudah tiba lebih dulu rombongan “jalan bebas”, rame banget. Untuk kita ber-enam udah disiapin satu meja khusus dengan menu makanan yang sudah dipesan sebelumnya. Makan siang kena charge Rp. 17.500/orang. Selain makan siang, disambut dulu dengan welcome drink berupa air kelapa seger…

Selagi kita masih makan, rombongan jalan bebas udah berisik, “ayo makan yang cepat ya…udah sore nih, kita harus segera jalan ke pulau pertama, waktu makan 10 menit lagi, nanti abis makan kita bagi kamar terus masukin barang ke kamar langsung siap-siap ya…”. Kami sebagi backpacker independent yang arrange sendiri semua perjalanan mulai kasih comment “ayo..cepat…cepat…hahhaa…ngapain lo bayar mahal waktu lo diatur-atur, ga bisa menikmati…” Itulah kekurangan kalau ikut milis-milis yang bayar dan mereka nentuin itinerary sendiri. Lebih baik seperti kami *ciehh..narsis…*, buat itinerary sendiri, nyari teman-teman yang mau ikutan, trus kerjasama nyiapain semuanya… Cost bisa di minimize, waktu sesuai kesepakatan, kecuali untuk hal-hal yang penting, seperti keberangkatan fery, dll.

Ada hal unik waktu abis makan siang, di meja sebelah kok disediain pisang meja kami tidak?? Mba Eko pun mengambil pisang dari meja sebelah satu sisir, ga nanggung-nanggung :P. Trus kita makan dengan santai. Trus, mas Lukman datang, “ayo mas…mba..perahu nya udah nungguin di dermaga”. Sip, kita mau dianterin ke penginapan, trus masih tergoda dengan pisang yang masih ada di meja sebalah, trus nanya mas Lukman, “mas pisangnya bisa dibawa ga??”, karena mas Lukman liat pisang nya ada di meja kami dia bilang “bisa, bawa aja mba…”, trus mba Eko gerak lagi mau ambil sisa pisang di meja sebelah, mas Lukman liat “eh, pisang dari meja sebelah ya, itu jangan mba, yang punya orang lain”, wakakakaa…. Mba Deny langsung tertunduk malu dan nyengir dan kami ketawa-ketawa karena pisang yang udah disiapin mba Deny untuk dibawa ke penginapan sama juga hasil curian dari meja sebelah hahahhaa…

Pulau Cemara Kecil
Mas Lukman nganterin kami ke penginapan Wisma Arianni, karena penginapan mas Ari di Wisma Karimun Indah udah penuh dipake ama orang-orang dari jalan bebas. Dari awal sih mas Ari udah ngasih tau hal ini, jadi that’s fine. Biaya penginapan untuk sekamar berdua Rp. 60.000/malam, kalau sekamar bertiga Rp. 80.000/malam, kalau berempat Rp. 90.000/malam. Kami makai 2 kamar yang sekamar bertiga.

Naro tas langsung siap-siap untuk memulai trip di Karimun Jawa. Sesuai masukan dari mas Ari kami akan mulai dari Pulau Cemara Kecil trus dilanjut ke Tanjung Gelam untuk nge-sunset. Sip! Kita jalan ke dermaga yang hanya berjarak sekitar 200m dari wisma. Di dermaga perahu kita udah siap dengan 3 kru perahu yang siap membawa kita. Mas Lukman juga ngasih tau kita, ada join 2 orang, yang akhirnya tau namanya Yaya dan Nyit-nyit. Kalau waktu ke Pulau Peucang nambah teman juga yang namanya perulangan dan 2 orang yang sahabatan juga, Kikid dan Pipit, sekarang di Karimun Jawa nemu lagi 2 mahluk yang sama, sahabatan abis dengan nama yang berulang, tapi ga seperti Kikid dan Pipit yang memilih huruf vokal I, yang 2 ini make vokal A dan vokal I, Yaya, Nyit-nyit.

Waktu perahunya da mau jalan, Ryan masih pergi nyari sesuatu untuk keperluan memancing di warung. Dan ga nongol-nongol juga…hmm..panas nih bos…buat emosi aja nih anak… Ditelpon susah masuk… Akhirnya dia yang nelpon gw, gw kerjain gw bilang aja udah di Tanjung Gelam, eh dia malah “ooo…jadi lo sekarang di Tanjung Gelam ya? Jadi gw ketemu lo di Tanjung Gelam?” dong…dong…dong Ternyata dia ga tau Tanjung Gelam itu harus nyebrang pake perahu juga…

Perahu kita menuju Pulau Cemara Kecil, lama juga perjalannya 45 menit. Lautnya tenang banget, ga seperti waktu ke Peucang yang ombaknya ampun-ampun. Perahu nya hampir satu ukuran dengan perahu waktu di Peucang. Dari perahu beberapa pulau lainnya terlihat, Pulau Menjangan Besar, Pulau Menjangan Kecil juga terlihat. 

Gila!!! Keren banget pulau cemara Kecil, kita berhenti di laut, ga nyampe nyandar di dermaga, karena ga ngeliat dermaga juga. Wah…hijau banget…dari perahu aja udah terlihat karang-karang laut dan biota laut lainnya. Kita langsung ganti baju dan nyebur ke laut, ga dalam, pas untuk berenang buat yang ga bisa renang, karena kaki masih bisa nginjak, tapi harus hati-hati karena banyak karang. Sayang gw ga bawa kaca mata renang, mau nyewa juga ternyata yang punya perahu ga punya. Untuk bisa tetep menikmati gw minjem kacamata Ryan, gantian gitu makenya hehhee…thanx Ryan…

Di Pulau Cemara Kecil ini kita nemuin beberapa bintang laut, dan kita foto-foto dengan bintang laut nya, keren dan seru deh… Snorkling disini harusnya seru, duh…nyesel deh ga persiapan banget, karena pas baca blog orang-orang katanya ada penyewaan alat snorkling, trus mas Ari juga bilang yang punya perahu nyewain, ternyata yang punya perahu kami ga nyewain tuh…sial…

Kami sama sekali ga menginjak pulau Cemara Kecilnya, cuma ngeliat dari laut dan perahu, intinya pasirnya pasir putih, dan garis pantainya ga panjang dan pulau tanpa penduduk.

Tanjung Gelam
Tanjung Gelam beach... perfect!!!
Sehabis dari pulau Cemara Kecil, perahu bergerak menuju Tanjung Gelam buat nge-sunset. Masih jam 4 sih, tapi mending nungguin disana. Dari Pulau Cemara Kecil ke Tanjung Gelam naek perahu sekitar 30 menit. Wauw…perfect beach!!! Pantai pasir putih, langit yang biru, pohon kelapa yang berbaris rapi. Ada juga disebelah kiri pantai batu-batuan seperti di pantai Belitong *walau hanya liat di pilem Laskar Pelangi*, walau batu nya ga besar-besar at least baguslah terlihatnya. Tanjung Gelam juga pulau tanpa penduduk.

Foto-foto disini keren banget deh, cuaca juga mendukung banget. Kita nungguin sunset di Tanjung Gelam. Asik juga nungguin sunset disini sambil photo session. Bapak-bapak kru perahu dengan berbaik hati manjat pohon kelapa untuk ngambil kelapa muda. Sehabis photo session dan nungguin sunset, kami berenang bentar di pantainya, snorkling tanpa snorkel, hanya modal kacamata renang. Di pantainya snorkel ga seseru di Cemara Kecil, tapi waktu lihat dari perahu agak ke tengah harusnya karangnya bagus-bagus banget. Tapi agak dalam, kalau ga bisa renang dan tanpa pelampung rasanya bahaya. 

Sunset view from Tanjung Gelam Beach...
Jam 6 lewat baru cabut dari Tanjung Gelam, perjalanan ke Karimun juga hampir makan waktu 45 menit. Badan sudah cape, tapi hati masih riang gembira, terbukti gw ama mba Deny masih semangat nyanyi-nyanyi sepanjang perjalanan hehehe…

Mandi ngantri, karena di penginapan kami kamar mandi-nya hanya ada tiga sementar tamu lagi banyak. Abis mandi gw sempetin ke rental komputer sebelah penginapan untuk transfer foto-foto selama di Semarang, udah penuh memory gw, 2 giga padahal. Penjaga dan yang empunya rental bernama mas Eko, seorang guru muda yang mengabdi di Karimun Jawa menjadi guru di SMK. Lumayan lama transfer foto-nya, gw tinggal makan jadinya. Untuk transfer foto gw kena charge Rp.10.000. Oh ia, di Karimun Jawa ada layanan hotspot dari kecamatan yang gratis digunakan masyarakat. Mantap deh…gretongan gitu….

Makan malam kami masih disediakan oleh Mas Ari si empunya penginapan Karimun Indah. Disediakan dalam artian bayar juga ya… Menu kali ini ikan bakar dan teman-temannya, nah untuk makan malam ini kita dikenakan biaya Rp. 20.000/orang. Worth lah, enak ikannya. Seperti siang itu, kami makan bareng romobongan jalan bebas. Mereka udah makan duluan. Kita ngeliatin mereka sambil comment lagi, “duh, udah jalan bareng belum ngomongan juga, diem-diem aja… belum kenalan apa yah??”. Ternyata benar, sesi kenalan dimulai abis makan malam. Beberapa orang yang kenalan dan dimintai pendapat mengenai trip mereka menjawab “seru, seru…” tapi dengan muka malas dan ga nunjukin kalo trip itu seru hehehe… Gimana mau seru ya, waktu kita dibatasi untuk hal ini dan itu, this is vacation men!!! Feel free to do what you want to do, right?

Abis makan kita ber-enam main UNO lagi, permainan wajib, daripada langsung tidur…iddddiiiih.. !!! *ngikut si bapak taksi*. Disebelah rombongan jalan bebas lagi acara kenalan, kita maen UNO dengan berisiknya, apalagi kalau lagi Pal, udah deh, tuh meja udah digebrak-gebrak aja… Setiap teriakan-teriakan dahsyat nan menganggu, semua kepala akan berpaling melihat kami… ah…aku jadi malu diliatin gitu… weks…

Mereka bubar duluan “ayo tidur…besok pagi harus bangun ngejar sun rise…”, yuk mari…kita masih lanjut main UNO sampai bosen, dalam artian bosen liat aksi jo, yang banyak aksi tak ada hasil!!! Gaya aja kau Jo!!!! Ga pernah menang pun kau… cem betul aja… jangan banyak kali gaya kau…!!! *huahahhaa… Medan kali*

Day 5 - Sabtu, 12 April 2009, Pulau Menjangan Kecil, Pulau Menjangan Besar, Pulau Cemara Besar
Pagi rencana untuk ngejar sun rise di Legon Lele, sesuai penjelasan mas Eko si empunya usaha rental. Trekking sekitar setengah sampai sejam. Udah nge set alarm 4:30. Tapi hujaaannn… Mba Deny udah ngebangunin ke kamar kami, tapi karena hujan tidur lagi. Trus Faisal cek lagi kamar kami, gw bangun dan langsung diri, biar ga ngantuk lagi, ternyata hujan udah reda… yeah…

Hal yang aneh adalah, tempat tidur Ryan bergeser agak ke tengah deket pintu, whatz up? Ada mahluk aneh kah yang menggesernya? Huahaha… pas tidur sih gw denger krasak krusuk geser tempat tidur gitu, ternyata Ryan kena cipratan air hujan…

Sun Rise view from Nirwana Lodge
Ryan dan Jo ga ikutan trekking menuju Legon Lele ngejar sun rise. Berempat jalan kaki di pagi hari, itung-itung olahraga, udah jam setengah 6 sih. Udah ragu apa keburu dapat view yang bagus buat sun rise. Karena Legon Lele *yang katanya best view buat sun rise* masih jauh, kita jadinya masuk ke Nirvana Lodge. Sebuah vila dengan view sun rise yang bagus dan pantai yang bagus juga…private banget nih tempat kayaknya. Cuma waktu kita kesana ga ada orang, jadi bebas aja masuk foto-foto dan nge-sun rise.

Karimun Jawa Traditional Market
Jam 7-an kita udah siap-siap untuk nyari sarapan dan memulai perjalanan hari ini. Ada 3 pulau yang akan dijelajah. Rencana awal nyari makan di sekitar dermaga, waktu mau belok kiri, eh liat di kanan ada pasar, liat-liat bentar pasar di Karimun Jawa seperti apa. Pasar kecil, yang aktif hanya sampai jam 10-an. Ada seorang ibu yang jualan nasi disana, cocok buat sarapan pagi, nasi plus ayam plus ikan asin plus tempe plus de el el. Hal paling kocak adalah, saat pembayaran, gw kena charge Rp. 10.000, ayam plus teh manis anget, trus Faisal melapor, makanan yang sama dia bayar Rp. 8.000, gw langsung nengok si Ibu…”kok beda bu??”, protes donggg… eh si Ibu jawab “ia toh, kan mas nya dapat ayam yang gede, mas nya ini dapet ayam yang banyakan tulangnya, jadi harus dibedain, entar mas nya protes lagi” hahaha…bener…bener… ya udah bu…pricing stragety yang bagus ;)

Si tante Eko nyari makan sendiri di warung seberang, mesen pecel yang katanya murah meriah hanya 2.000 perak, apa 3.000 ya? Lupa gw. Trus dia beli cendil juga, kalo soal makanan tante Eko hebat deh…semua mo dicoba… 

Pulau Menjangan Kecil
Abis sarapan, perjalanan dimulai menuju Pulau Menjangan Kecil. Kita berhenti dipantai ga sampai nyandar di dermaga, karena menurut si Bapak perahu, kalau masuk pulau ini harus bayar, sekitar Rp.10.000/orang, idih…males bet ya… Akhirnya kita nyebur aja gitu dari perahu, daripada bayar… Yang nyebur pertama Faisal, ternyata dalam juga… kita minta si bapak perahu agak pinggiran dikit, jadi ga terlalu dalam. Untuk orang-orang yang “ga pede” renang jadi bisa napak di dasar laut. Ternyata tetap lumayan dalam, jadilah gw memapa nenek-nenek tua selama di lautnya sampai menuju pantai yang agak dangkalan. Nenek-nenek tersebut adalah mba Deny hahahhahaha… maaf mba Den….

Paling hebat adalah Yaya dan Nyit-nyit yang masih ditengah udah nyebur ke laut, pake pelampung juga sih. Emang kedua anak ini persiapan banget deh ke Karimun Jawa, pelampung bawa sendiri, snorkel punya, kacamata renang bawa, sepatu untuk renang bawa…jadi aman kalo napak di dasar yang ada bulu babi nya. Mereka malah teriak-teriak, sini donggg…sini keren banget… Ayo cepeten… Kita coba renang kesana, kok di dasarnya banyak yang item-item ya?? Eh ternyata itu bulu babi, banyak banget…ngumpul gitu, kita harus muter supaya ga keinjek, kalau ke injek badan bisa panas dingin… Di Pulau Menjangan Kecil ini harus super duper hati-hati, entar ada bulu babi yang nyempil satu di balik karang… 

Nyit-nyit minjemin snorkel ama pelampung serta kaca matanya ke gw, komplit deh, soalnya mereka jago renang jadi ga kawatir… Yess…bisa juga menikmati keindahan bawah laut nya Karimun. Emang di bagian itu keren sih… Beberapa dari kita susah gerak menuju titik yang di tunjuk Nyit-nyit dan Yaya, karena “ga pede” renang. Sempet-sempetnya ada sesi training ke mba Deny oleh Nyit-nyit, ayo nafas…nafas…jangan panik… oalah… :D. Yaya ampe teriak-teriak…sini dongg… lama amat sih… sini keren lagi…sini gw tuntun.. Kita masih yang masih takut ama bulu babi. Sampai-sampai nyit-nyit teriak “ga ada bulu babi-bulu babi, bulu bali itu ga gerak, dia diem aja disitu, yang penting jangan nginjek aja…” Oala bu…itu dia masalahnya, gerak dikit bulu babi, kita kan ga pede renang gitu, dikit-dikit napak, kalo pas pengen napak nginjek bulu babi gimana hayo… Akhirnya sih mendarat juga di titik yang disebut ama Nyit-Nyit ma Yaya.

Nah masalah berikutnya waktu kita teriak manggil perahu, perahu kita udah deket pantai, kita udah agak ketengahan, yang udah ga mungkin kita renang ke pinggir pantai, bulu babi dimana-mana… Kita udah deket dermaga nya, dermaga jauh dari pantai. Sambil nunggu si bapak perahu, kita renang ke dermaga, dalem banget… gw minjem pelampung buat nyebrang, Faisal dan Nyit-nyir dengan nyantai renang sendiri… Trus yang laen nungguin pelampung, jadi tukeran… Gw malah heran, si Ryan kok panik banget ya… takut banget renang ke dermaganya… Tak kirain lo jago renang bos…ternyata…ah…dirimu buat malu aja…padahal udah pake pelampung juga hahahhaa…

Paling males waktu kita lagi nunggu bapak perahu di dermaga, rencana mau foto-foto, gaya loncat ke laut gitu, eh pas mau ambil kamera, seorang bapak udah nampang di pantai melototin!!! Tatapannya seolah berkata “bayar ga lo??? Kalo engga, pergi sana!!!!!!!!!” Anjrit nih orang…ini kan ciptaan Tuhan…rese abis lo ah…

Pulau Menjangan Besar
Me and the shark!
Sehabis dari Menjangan Kecil, Pulau berikutnya adalah Pulau Menjangan Besar. Jarak antara Pulau Menjangan Kecil dan Menjangan Besar ga jauh, naek perahu 15 menit doang. Nah, di Pulau Menjangan Besar harusnya bisa juga berenang dan snorkling, tapi katanya bapaknya pantainya lumayan berombak, kalau mau silahkan, tapi saran bapake mending jangan. Di Pulau Menjangan Besar kita akhirnya berenang dengan hiu, ga percaya lo??? Nih foto-nya. Tujuan utama ke Pulau Menjangan Besar memang melihat penangkaran hiu, dimana kita bisa berenang juga dengan hiu-hiu itu. Dan tentunya kita ga mau melewatkan kesempatan langka ini :D. 

Paling seru waktu si bapak penjaga penangkaran hiu ngasih makan hiu nya dan kita lagi di dalam kolam, otomatis si hiu nyambar makanan yang di lempar dan si hiu berkumpul di satu titik, kita diri dan si hiu hilir mudik di kaki kita. Kita pun nyanyi lagu favorit sekaligus lagi kenangan Ryan di kolam itu “Ditowal towel jangan mere mere…” hahhaa… Agak-agak serem juga waktu si hiu siliweran di kaki, jangan-jangan salah gigit lagi nih hiu…ternyata aman-aman sajaaa… Seru…seru…pengalaman yang unik…

Di Pulau Menjangan Besar kita benar-benar hanya berenang dengan hiu dan ga makan waktu lama. Masih jam 11. Mba Eko, Ryan dan Mba Deny, pulang ke Jakarta hari itu juga, fery jam 2. Itung-itungan waktu, kalau mau ke Pulau Cemara Besar makan waktu 45 menit, PP 1 jam setengah, setengah jam disana masih jam 1 entar balik ke Karimunnya. Mereka takut ga keburu, jadi ya udah… kita balik ke Karimun. Beres-beres, kita bertiga (gw, fai n jo) juga beres-beres karena harus pindah penginapan ke Karimun Indah. Ternyata penginapannya masih diisi. Ya udah kita putusin kita bawa tas ke perahu dan berangkat ke Pulau Cemara Besar. Mba Eko, Mba Deny dan Ryan istirahat di penginapan sambil makan siang nunggu waktu keberangkatan. Ok d, mba eko, mba deny dan ryan, hati-hati ya…thanx for joining us on this trip…

Pulau Cemara Besar
Nyit-nyit dan Yaya masih nungguin di perahu. Yang jalan ke Pulau Cemara Besar jadinya berlima. Perjalanan lebih 45 menit. Makan di perahu, abis makan terkantuk-kantuk sambil menikmati semilir angin laut. Di perahu masih sempet jemur pakean yang basah, biar ditas ga berat :D.

Again, Cemara Besar....
Perjalanan ke Cemara Besar agak berombak, tapi ga parah, biasa aja, dibanding dengan sehari sebelumnya yang lautnya tenang bangettt… Mendekati Cemara Besar terlihat garis pantai putih gitu, gw sempet bilang ke Fai, berombak tuh…disana ombaknya gede, Faisal bilang, engga ah…itu warna lautnya lagi…tapi kok putih gitu sih… Semakin mendekati ternyata itu warna lautnya. Keren abis… ternyata pasir putih di tengah laut, tapi itu dangkal, dan itu panjang banget seolah menyambung 2 pulau, Cemara Besar dan pulau Menyawakan kalo ga salah. Keren, asli!!!! Perfect!!! Untuk snorkling juga bagus banget…karang-karangya dan ikannya mantep dah… Untung gw inget minjem kacamata renang mba eko hehehe…thanx mba Eko…

Di Cemara Besar, si bapak perahu juga snorkling sambil nyari jawil. Mereka teriak…”mas…ini banyak nemu Jawil, entar mau makan ga?? Biar dicariin lagi”, ya uwes kita mau dong… mereka dapet banyak… Trus kita jalan ke Pulau Cemara Besarnya… wah…airnya hanget…gw berendam dulu, asik banget… Si Bapak perahu nyiapin api untuk ngebakar… Abis berendam dan moto-moto, kita join, beberapa udah mateng…daging jawil nya masih terbungkus cangkang. Abis dibakar, harus di hancurin cangkangnya dengan palu. Wah…maknyus banget nih jawil…ga pake kecap, garam or sambal tapi mantep abis…apalagi kalau dapet yang ada telornya, manis…uenak tenan rek… 

Gw, Fai and Jo sempet berencana muterin tuh pulau, karena kata bapaknya bisa di puterin, malah bapaknya mesen kalau nemu jejak penyu bertelur panggil kita ya… Kita nyoba, ternyata makin jauh makin ga bisa di jalani, harus sambil renang dikit. Kita balik deh jadinya… Menurut info dari bapak perahu, pulau Cemara Besar ini dulu tempat sekolah pelayaran. Pas gw tanya bekas gedung nya dimana, katanya udah dihancurin.

Abis nge-jawil…oalah istilahnya… kita balik ke perahu dan melanjutkan perjalanan. Karena pulau yang laen itu jauh-jauh dan beberapa pulau harus bayar kalau masuk, ada yang pake dolar lagi..najis banget yah…pulau-pulau kita ini telah di miliki orang asing…hiks…, kita akhirnya milih ke Tanjung Gelam lagi. Kemaren itu ke Tanjung Gelam belum renang dan ada pantai berbatu yang belum dijelajahi…

Halak Hita di Karimun (Orang Batak di Karimun) 
Malamnya, kita ga mesen makan dari penginapan Mas Ari, pengen nyoba nyari sendiri. Tapi kita nyari tiket fery dulu untuk pulang besoknya. Pergi ke ASDP yang ternyata malam juga masih buka. Mesen tiket yang VIP, AC lah ceritanya, ini bukan fery cepat, tapi fery biasa…harga tiket Rp. 58.250,- per orang plus asuransi. Lagi ngobrol ama penjual tiketnya, petugas fery, dia nanya-nanya dari mana, orang mana, dan gw jawab, orang Medan, dia nanya marga apa, gw jawab Simanullang, dia langsung nyalam gw sambil bilang Samosir…oalah…batak juga, ngomongnya da jawa banget… Waktu ga ada kembalian dan kita ngasihnya kurang, dia bilang “ya udahlah…anggap aja harga saudara..” hahaha.. mauliate bapa tua samosir… 

Keluar dari kantor ASDP, kita jalan nyari makan, sesuai dengan petunjuk mas Ari, deket lapangan ada warung. Yup, right, ketemulah sebuah warung. Ambil sendiri cuyyy…pas banget dah…laper gini solusi paling baik adalah makan yang ambil sendiri alias prasmanan… Pas makan, terdengar bapak yang punya warung ngomong ke anaknya dengan logat Medan. Jo langsung comment, wah…orang kita keknya… Mungkin karena si bapak dengar, trus dia ajak ngobrol… Pas ngobrol ama kita sih logat jawa abis… Pas kenalan, ternyata batak juga… marganya Sitorus lagi, sama ama Jo dan Faisal. Oh ia, si Fai sih marga Pane, tapi kalau di batak biasa itu dibilang Sitorus Pane. Dan Faisal baru tau itu, secara dia batak kafir hahaha…dia sendiri yang bilang loh…bukan gw… Abang Sitorus ini humble banget… dia manggil Faisal aja abang, karena marga Pane lebih tua *secara silsilah batak* dari pada Sitorus… Makin mantaplah pembicaraan sambil makan… Belum lagi dia manggil gw tulang karena ada sodaranya yang marga Simanullang, dan dia harus manggil tulang ke gw. Ampunn…gw langsung bilang “bang, ga usah manggil tulang lah…ga kuat aku dipanggil yang lebih tua tulang, make umur aja lah bang, ga usah make silsilah batak kita sekarang…” Hehehe…. Coba ngobrol make bahasa batak, abang Sitorus masih bisa, karena terlalu lokal yang membuat Faisal dan Jo ga ngerti kita jadinya make bahasa Indonesia ajah… 

Habis makan obrolan masih lanjut…ya ialah…semarga ketemu di pulau Karimun Jawa yang pasti suatu kejadian yang sangat langka… Tapi sayang, si Jo nih kurang respon menurut gw…dasar kau Jo…tak ngerti adat kau…!!! Banyakan ngobrol ama abang Sitorus ini jadinya gw… Abang ini nawarin minum kopi lagi… waktu kakak *istri abang Sitorus, marga Lubis* lagi buat kopi terrciumlah aroma kopi yang khas di hidung ini… tak lain tak bukan kopi Sidikalang… Minta konfirmasi ke abang itu, ternyata abang itu baru pulang dari Medan dan dia bawa kopi dari Medan, ya udah lah…ngemeng doang tuh kopi Medan, aku yakin itu kopi Sidikalang!!!! Aroma nya ga bisa nipu apalagi rasanya… maknyuss….

Kopi Sidikalang
Pembicaraan dilanjut sambil minum kopi, ternyata bang Sitorus ini udah 13 tahun merantau dan menikah dengan kakak boru Lubis disana. Ditengah pembicaraan, Faisal mengirim sms ke gw dan Jo yang inti sms nya kita harus bayar tuh makanan, jangan jadi gretongan, minimal bayar 50rb, karena kami makannya buas dan pada nambah semua. Yup, setelah hampir 2 jam di warung bang Sitorus ini, kami pamitan pulang, dan masuk ke dalam warung makan, ada mba-mba disana. Waktu mau nanya harga, bang Sitorus langsung bilang ga usah bayar, masa abang sendiri makan dirumah harus bayar, kata bang Sitorus. Waduh, repot deh, kita udah maksa terus, untuk bayar, ga enak juga, karena kita tadi udah buas banget makannya. Faisal malah kasih ide untuk naro duitnya di meja gitu. Itu sih malah ga sopan, karena abang Sitorus tadi udah nganggep kita sebagai tamu dan malah saudara. Mauliate godang bang Torus…sae Tuhanta ma na mambalos tu sude na ni parade ni abang tu hami ate….

Mantap nian nih orang batak!!! Faisal aja langsung komen, wah…kita harus buat kaos nih “Proud to be batak…” atau “Saya batak!!!”, jadi kalau jalan bisa aman. Huahahaa….

Sayonara Karimun Jawa
Ferry to Jepara...6 hours of journey to Jepara
Pulang ke penginapan Karimun Indah, langsung tidur, da cape seharian beraktifitas. Bangun pagi langsung siap-siap mandi dan menuju pelabuhan. Kapal ferry yang kami tumpangi berangkat pada pukul 08.00. Kapal ferry pulang dari Karimun Jawa kapal ferry biasa, bukan kapal ferry cepat, waktu tempuh menjadi lebih lama hingga 6 jam. Dan uniknya kapal ferry ini dipenuhi oleh beraneka ragam barang dari hewan, kelapa, mobil, motor, ikan, dan barang-barang dagangan lainnya. Penuh banget sampai susah naek ke atas. Motor menutupi tangga, petugas juga ga cepat ngatur letak motor dan mobil di ferry. 

Pulang bareng dengan Nyiet-Nyiet dan Yaya tapi duduk mereka terpisah, Nyiet-Nyiet pokok kiri depan dan Yaya pojok kanan belakang, diagonal lah ceritanya. Aktifitas di ferry selama 6 jam, tidur dan makan. Tiba di Jepara udah jam 2. Jalan kaki menuju terminal Jepara, backpacker abizzz, backpacker kere lebih tepatnya. Mayan juga ternyata, tapi masih kalah dengan perjalanan dari stasiun Tawang ke Simpang Lima. Hal pertama yang dilakukan di terminal Jepara adalah, makaaannn…laper cuy…! 

Sekitar jam 3 lewat bis jurusan Jepara – Semarang pun meluncur, makan waktu 3 jam. Bis nya sih seperti metro mini, penumpang yang ga kebagian duduk berdiri dan bis nya penuh, metro mini abis deh. Jam 6 tiba di Semarang di lanjut menuju stasiun Poncol naek angkot, makan waktu hampir 30 menit. Nyampe di stasiun Poncol ternyata tiket ekonomi jurusan Jakarta untuk yang duduk sudah habis. Apa daya, kita sepakat untuk naek kereta bisnis dari stasiun Tawang, untuk ngejar waktu naek taksi. Ternyata kereta bisnis dari stasiun Tawang pun sudah penuh untuk kelas bisnis, kita ditawari naek kereta eksekutif pukul 10 malem dengan harga tiket Rp. 190.000,-, you know what? Untuk satu kata yang dikenal dengan nama “kenyamanan” kita memilih tiket eksekutif :D, AC, dikasih bantal, selimut ada snack nya juga…, please Ryan, Mba Eko, Mba Deny, dilarang protes… hahhahahaa…kami maklum atas penderitaan kalian naek kereta ekonomi, non seat pula, kalian memang tidak modal!!! Wakakakaka… Otomatis pengeluaran untuk backpacking kali ini bengkak abis, tekor di bis berangkat ke Semarang, tekor lagi naek kereta dari Semarang ke Jakarta.

Tiba di Jakarta udah jam setengah enam pagi, ke rumah Faisal nebeng mandi. Langsung ngantor…mantap dah…pegelnya ampun-ampun…

That’ all folk! It’s a great moment!!!

Fyi, kalau mau ke Karimun Jawa, silahkan menghubungi Mas Ari 081325131608, orangnya baek banget, beliau akan menyiapkan semua kebutuhan disana, dari penginapan, makan, perahu, alat snorkel, diving, just call him. Mas Ari ini sangat memperhatikan konsumennya, kita akan ditelpon terus lagi dimana, sedang apa untuk memastikan kita menikmati selama berada di Karimun Jawa. Kalau makanan sudah siap, akan ditelpon untuk ngajak makan. Yang paling luar biasa menurut gw, sewaktu balik dari penginapan menuju Pelabuhan, mas Ari coba cek kami ke kapal Ferry apakah sudah di dalam apa engga, untuk memastikan kami tidak ketinggalan kapal, karena sekali ketinggalan harus menunggu beberapa hari ke depan. Mas Ari nelpon, trus nyusul ke pelabuhan, kami belum tiba di pelabuhan, masih jalan kaki karena keluar dari penginapan ke pasar dulu beli sarapan, kami di tawarin untuk dianterin naek motor beliau karena memang waktu tinggal 10 menit lagi. Luar biasa… cocok nih Mas Ari jadi CRM, Customer Relationship Marketing, thanks Mas Ari untuk semua bantuannya selama di Karimun Jawa… Sesuai pesan Mas Ari, saya akan mempromosikan Karimun Jawa supaya semakin terkenal…

18.5.09

Semarang & Karimun Jawa, 8 – 13 April 2009 - part 1

Ada long weekend nih di April, yuk mari… Sesuai rencana backpacking kali ini menuju gugusan pulau di atas Semarang dan Jepara, Karimun Jawa. Faisal nyiapin itinerary seperti biasa, dan mulai share lewat Message di Facebook. Rencana awal dari 9 – 13 April, tapi karena Pemilu libur nasional, schedule berubah jadi berangkat 8 April. Setelah musim pendaftaran berlalu, akhirnya hanya berhasil mengumpulkan 6 peserta. Dan itu pun terjadi pergantian peserta, karena ibu Meriem seperti biasa ber-manifestasi aneh-aneh kalau udah jelang backpacking, alhasil dia sakit radang tenggorokan dan harus istirahat…tapi karena bandel juga sih, ga masuk kantor sehari, trus maksain masuk besoknya, yang ternyata membuatnya lebih tepar lagi dan batal ikut ke Karimun. Lain lagi dengan Ryan, yang sok ngerasa penting banget… :P. Dari awal tarik ulur antara ikut dan engga. Hari keberangkatan, siang, gw telpon dia, dan dengan malesnya dia bilang “kenapa sih gw harus ikut? Ga seru ya kalo ga ga ikut??” What???? Dengan nyantai gw jawab “Yan, di only reason is kita butuh orang buat cost sharing…wakakakkaa…”, dia pun terdiam. Then finally dia ikut juga, mba Deny kasih kabar ke gw dengan mem-forward sms Ryan yang bilang ikut dan pura2 mau buat surprise… Sok-sok mau buat surprise hanya ngasih tau mba Deny kepastian berangkat, dia ga tau aja gw yang ke stasiun Senen beliin tiket, gimandang kalo gw hanya beli 5 tiket? Berangkat sendiri deh dia ke Semarang, poor you..! hehehe…

Okeh…lanjut…atas request Faisal, seminggu sebelum keberangkatan, gw udah telpon seseorang bernama Mas Ari, atas rekomendasi teman Faisal yang sering ke Karimun Jawa. Gw booking penginapan dan nanya2 informasi mengenai keberangkatan ke Karimun Jawa. Booking perahu juga buat transport antar pulau di Karimun Jawa. Aman untuk di Karimun Jawa-nya.

Day 1 – Rabu, 8 April 2009, Keberangkatan dari Terminal Rawamangun
Rencana awal naek kereta dari stasiun Senen, tapi apa daya, gw udah bela-belain jam 5 teng keluar dari kantor (yang sangat jarang sekali terjadi selama 2.5 tahun kerja di MJ) buat ngejar beli tiket, tapi apalah dayaku, aku hanya manusia biasa, tiket yang tersisa Jakarta – Semarang baik ekonomi maupun bisnis hanya tiket non-seat, alias tiket berdiri, poor us…! Sehari sebelum mba Deny udah usaha juga ke stasiun Senen buat booking, ternyata tiket bookingan udah habis juga, harus beli pas hari H. Ya sudah… Abis itu gw contact-contact an dengan Faisal sebagai EO dan decision maker, akhirnya diputuskan untuk naek bis saja dari terminal Pulau Gadung.

Gw dengan menggunakan jasa TransJakarta aka busway menuju terminal Pulo Gadung, antrian panjang di Halte Senen, bete deh…mana tas berat lagi… Mba Deny yang kantornya di daerah Pulo Gadung duluan ke terminal. Sekalian nanyain informasi bis ke Semarang. Setelah ketemu, seperti biasa, para penumpang bak artis terkenal akan dikerubutin oleh para kenek or calo tiket dengan agak memaksa untuk naek bis mereka. Kita jalan aja lempeng ke dalam nyari warung makan. Sial deh mereka… Kemudian Jo nyusul tiba di terminal. Bertiga masuk warung mau mesen makan, eh nasi nya abis…warung yang laen da pada tutup. Sambil nongkrong di halte terminal, nanya2 orang sekitar dan para kenek disana mengenai bis ke Semarang dan harga tiket. Katanya ekonomi ke Semarang itu tiketnya Rp. 110.000 itu pun udah mau habis, trus bisnis itu Rp. 190.000, fiuh mahalll… 

Kita gali info lebih banyak, mba Deny punya teman orang Semarang, dan kasih saran mending dari terminal Rawamangun karena bis nya ampe malam jam 12-an juga ada katanya, kalau dari terminal Pulo Gadung hanya sampai jam 8. 

Gw telpon Faisal nanya posisi, dan ternyata masih di daerah Manggarai bareng ma Ryan, kebetulan ketemu di halet Dukuh Atas, kita bagi tugas, Faisal dan Ryan langsung ke terminal Rawamangun untuk cek bis disana, trus kita bandingin, ternyata bis eksekutif dari terminal Rawamangun masih ada jam 10 dan tiketnya hanya Rp. 150.000, untuk bisnis or ekonomi udah ga ada sama sekali, ya udah deh pasrah, padahal da sempet kepikiran berangkat besok nya aja, karena mahal… dari tiket kereta yang hanya Rp. 33.000 jadi naek bis yang tiketnya hampir 5 kali lipat.

Perjalanan jam 10, sedikit tertunda, kita mengalami masalah, ternyata bis yang berangkat dari terminal Rawamangun adalah bis dari terminal Pulo Gadung. Ada kesalahan pencatatan, waktu kami masuk ke dalam bis, kursi yang tersisa tinggal 5, kami ber-enam. Alamak…Jo ga dapet duduk, tapi dia cuek aja karena lagi nelpon. Padahal di tiket tuh udah ada nomor duduk, dasar yah…sistem pencatatan manual memang berpotensi mendatangkan masalah hehehe… Karena agak lama proses penyelesaian, dan mereka sepertinya tak bergerak, gw turun dah, udah mulai emosi… Akhirnya satu penumpang menjadi korban, dia disuruh duduk didepan, dan kita duduk terpisah-pisah… Bis jalan udah 10:30 malam.

Perjalanan lama…macet di Cikampek sampai Indramayu. Fiuhhhh…jam 6 aja masih di Cirebon, parah yah… harusnya perjalanan hanya 8 jam normal, kita nyampe di Semarang udah hampir jam 11. Oh ia, di bis Ryan duduk di kursi depan, trus di depan dia ada seorang Bapak yang sepertinya tertarik pada Ryan hahaha…, ini Ryan sendiri yang cerita, si Bapak yang main mata gitu ama dia… apa mungkin ya nama si Bapak itu Novel?? Wakakaka…udah Ryan, hajar… pantesan lu anteng banget di depan :P

Day 2 - Kamis, 9 April 2009, Klenteng Sam Poo Kong, Kota Tua Semarang, Gereja Blendug, Simpang Lima
Sepanjang perjalanan liat kiri-kanan, hari ini adalah Pemilu, Nyontreng Day para caleg yang aku tak kenal. Maaf yah..kita bukan warga negara yang baik, bukannya nyontreng malah jalan. Sorry to say deh…pemilu caleg ga guna… :D What’s in your head Caleg? Are you really care about this country? I think no, you just care about how to get your money back!!! No offense… Udah ah, biar saja itu menjadi urusan hati mereka…

Lewat Cirebon sekitar 6 kurang, sun rise…keren euy…sun rise keren ternyata ga selalu harus di pantai atau di gunung, di jalan tol Cirebon juga sun rise nya keren banget, sayang gw duduk di tengah dan susah untuk moto.

Lagi di bis, Faisal ngasih HP nya ke gw, ada message dari temannya berisi list penginapan di Semarang, semua depannya kata-kata “hotel”, mba Deny bertugas nelpon tuh hotel satu-satu, ternyata ratenya di atas 150rb semua permalam, not on budget. Semua udah di coba, malah makin ke bawah list hotelnya makin mahal saja… Trus Faisal ngasih lagi nomor yang depannya bernama “Wisma”, yup, Wisma DPR, semalam Rp. 75.000, murah…tapi sayang penuh. Atas rekomendasi dari petugas Wisma DPR, mereka ngasih nomor Wisma Pemda, same price, dan kamar masih ada yang kosong. Kita booking satu kamar dulu buat ber-enam, sapa tau kamarnya gede kan, jadi 75.000 dibagi 6 orang hahahaa…

Tiba di Semarang sekitar jam 11, turun di Kali Banteng, karena bis yang kami tumpangi adalah bis jurusan Jakarta – Surabaya. Menginjakkan kaki di kota Semarang? What’s first things first to do?? Foto!!!! Hahhaha…yup, kita foto-foto dulu, trus ambil peta dari buku Peta Wisata Jawa – Bali yang gw bawa, liat posisi dan harus kemana. Ngangkot ke arah Simpang Lima, tapi turun di daerah Tugu Muda, persisnya depan Lawang Sewu, ongkos Rp. 3.000. Dilanjut naek “metro mini ala Semarang” menuju daerah Gajah Mungkur, turun depan Hotel Gracia, ongkos Rp 3.000, trus jalan kaki ke jalan Guntur di belakang Hotel Gracia. Oh ia, semua perjalanan terasa lancar ya? Banyaklah bertanya, karena ada petuah bijak berkata “malu bertanya, sesat di jalan, malu bertanya, jalan-jalan” :D

Jalan kaki sekitar 300m, lewat kuburan dulu, baru dapat Wisma Pemda, Jalan Guntur no. 17, Gajah Mungkur, Semarang. Ternyata masih ada beberapa kamar yang kosong dan kamarnya cukup buat ber-enam, walau kasur hanya untuk berdua, kita bisa atur entar, di kasur jadi ber-4, dengan mengubah posisi tidur, dan 2 orang di lantai. Tapi si Bapak penjaga ga setuju, kebanyakan katanya, jadilah kita mesen 2 kamar. Ah…nambah cost aja nih si Bapak. Beres-beres dan mandi, ready to start Wisata Kota Semarang.

Makan Siang, Bandeng Juwana, Jalan Pandanaran
Dari Wisma Pemda, ngangkot lagi ke Tugu Muda, dari sana jalan kaki nyari makan, wisata kuliner dulu ceritanya. Ketemulah dengan tempat makan dengan judul Bandeng Juwana, di jalan Pandanaran. Lantai 1, tempat jual oleh-oleh khas Semarang, di lantai 2 adalah restoran. Mesen makan siang, gw mesen Bandeng Bumbu Rujak plus es campur. Yang laen ada yang mesen, Bandeng Bumbu Bali, sayur asem, nasi bakar, dan lain-lain. Sesuai dengan judulnya, makanan disini dominan dengan bandeng-nya. Masakannya uenak tenen, rek! Di dinding restoran itu banyak foto-foto dan tanda tangan orang-orang terkenal yang udah pernah makan kesana. Another kind of promotion, I think! 

Klenteng Sam Poo Kong
Sam Poo Kong
Sehabis makan dari Bandeng Juwana, tempat pertama yang kami kunjungi adalah Klenteng Sam Poo Kong. Klenteng ini berada di daerah Simongan. Nanya karyawan Bandeng Juwana dulu cara ke klenteng, ternyata ngangkotnya nyambung. Jalan ke persimpangan yang ditunjuk karyawan tersebut, ada angkot yang nawarin untuk bawa langsung ke klenteng, ga usah nyambung, jadi kayak nyarter gitu. Ya udah, ternyata arahnya searah dengan penginapan kami, ongkos per orang Rp. 4.000 di kali 6 bayar Rp. 24.000 sampai ke depan Klenteng.

Klenteng Sam Poo Kong masih dalam tahap pembangunan secara bertahap. Akan ada 18 bangunan yang peruntukannya ada untuk tempat ibadah, gedung serba guna, penginapan untuk umum dan juga toilet. Nama bangunan di klenteng ini ada Kyai Juru Mudi, Dewa Laut, Dewa Bumi, Gua Sam Poo Kong. Untuk tempat ibadah, orang-orang yang boleh masuk hanya orang-orang yang bertujuan ibadah, ga boleh foto-foto doang, walau ada orang yang nyebelin dan buat iri juga, karena mereka masuk benar-benar untuk photo session. Padahal di dalam klentengnya lebih seru sepertinya, kita hanya bisa ngeliat dari luar dan foto dari jarak jauh.

Untuk masuk ke Klenteng Sam Poo Kong tidak dipungut biaya, bebas masuk asal berpakaian rapi. Eh, katanya nih, Klenteng Sam Poo Kong ini dulunya tempat persingahaan Laksamana Ceng Ho.

Stasiun Tawang & Kota Tua Semarang
Stasiun Tawang di sore hari
Sehabis dari Klenteng Sam Poo Kong, perjalanan dilanjutkan ke Stasiun Tawang, sebenarnya ga ada yang spesial dengan stasiun ini, karena kita pengen nge cek jadwal keberangkatan kereta ke Jakarta dan mau booking tiket dulu untuk hari Minggu/Senen. Mangkanya nih stasiun masuk dalam list hehehe… ga penting banget yah… Ternyata kereta dari stasiun Tawang hanya kereta ekonomi dan eksekutif. Kalau mau ekonomi harus dari stasiun Poncol. Ya uwes, kita keluar dari stasiun Tawang.

Fyi, dari klenteng naek angkot menuju Karang Ayu, ongkos Rp. 3.000. Ada hal yang lucu sewaktu kami bertanya pada seorang Ibu cara ke stasiun Tawang, dia ngejelasin, nanti naek angkot ke Karang Ayu, terus turun, entar naek atas jalan terus turun…dari sana entar naek angkot lagi. Nah, kita anek angkot ke Karang Ayu, ga lama nyampe di Karang Ayu, pas kita lihat, eh, yang di maskud ibu, nanti naek jalan terus turun adalah jembatan penyebrangan, waduh…ribet deh si ibu, dalam bayangan kita itu seperti di Cawang..ckckckck… Kita nyebrang trus dilanjut nyari angkot menuju Stasiun Tawang, lagi-lagi ada supir angkot yang nawarin diri nganterin langsung ke stasiun Tawang, padahal bukan jurusan angkot dia. Apa di Semarang bebas gitu yang merubah rute sendiri? Kita banyak nanya ke supir angkot ini mengenai tempat-tempat seru di Semarang, dia jelasin banyak. Ongkos Rp. 5.000 per orang, apa karena ada informasi tambahan dari dia ya jadi kena charge 5.000 gini? :D

Kota Tua Semarang
Di depan stasiun Tawang adalah kota Tua Semarang. Kita menikmati kota tua Semarang dari danau buatan di depan kota tua, jadi danau berada diantara kota tua dan stasiun Tawang. Nongkong disana sambil jeprat jepret sampai sore. Air danau buatan ini berasal dari air laut, karena daerah stasiun Tawang dan kota tua Semarang sering terjadi rob. Danau buatan ini juga dilengkapi dengan pintu air yang siap dibuka kalau rob nya tinggi. 

Foto-foto di danau ini keren juga, bisa liat efek reflection yang keren. If you want to see the picture, ini dia...keren yah… Kita sih ga explore gedung-gedung tua-nya. Abis dari kota tua ini, kita jalan menuju gereje Blendug.

Gereja Blendug
Gereja Blendug
Gereja Blendug berjarak sekitar 300m dari Kota Tua Semarang, sepertinya sih termasuk dalam kawasan kota tua :D. Gereja Blendug menjadi tujuan wisata di kota Semarang karena gereja ini bergaya arsitektur Belanda dan dibangun tahun 1753. Tua banget ya…bentuknya hexagonal. Pada hari biasa para pengunjung bisa masuk ke dalam gereja untuk melihat dalamnya seperti apa. Tapi sayang, kami datang sehari sebelum Jumat Agung, dimana besok harinya gereja mau dipake buat Ibadah. Jadinya kami ga berhasil masuk untuk melihat dalam gereja nya seperti apa. Cukup foto-foto di depan gereja.

Stasiun Poncol
Dari gereja Blendug perjalanan di lanjutkan ke stasiun Poncol, melanjutkan pencarian tiket pulang ke Jakarta. Anak-anak sepakat jalan kaki, katanya sih sambil melihat-lihat kota Semarang. Well, padahal jaraknya itu jauh. Sambil jalan kita melewati KM 0, Kota Semarang. Trus dilanjutkan ke stasiun Poncol dengan keep on asking orang-orang yang ada di jalan biar ga nyasar. Berhenti dulu di Alfamart nyari ransum, udah cape soalnya, pada beli minum dan es krim.

Setiba di stasiun Poncol, loket udah tutup. Untung ada petugas lagi diluar, kita nanya-nanya. Ga bisa beli tiket sebelum hari keberangkatan. Katanya untuk keberangkatan minggu malam harus beli tiket di minggu pagi. Dan informasi terakhir, kereta ekonomi ke Jakarta udah penuh, yang ada tinggal non-seat. Long weekend penyebab segalanya :D. Pulang tanpa hasil, tiket ga ditangan.

Simpang Lima Semarang
Perjalanan dilanjutkan, tetep keukeuh dengan berjalan kaki. Tujuan berikutnya adalah Simpang Lima Semarang, surga tempat jajan di Semarang. Ngobrol sambil jalan memang seru, lelah tak berasa, tapi… jalan…jalan…terus…lagi…terus….lagi…jalan…jalan…asking… jalan…asking…jalan…terus…jalan…asking…jalan… Udah mulai menyadari bahwa jalan adalah keputusan bodoh, ayo ngangkot…angkot ga ada yang lewat, bukan jalur angkot sepertinya…jalan…lagi…jalan… ada angkot dipersimpangan sana…dengan semangat jalan. Eh, tiba di persimpangan kok malah angkotnya ga ada ya? Trus nanya orang lagi, udah deket kok…udah deket… Jalan…jalan…lagi…terus…jalan… kok ga nemu juga ya??? Nanya lagi…oh itu udah deket mas…depan ke kiri udah dapet… Jalan…jalan…belok kiri jalan…ah..betul… SELAMAT DATANG DI DAERAH SIMPANG LIMA, akhirnya…perjalanan panjang dan melelahkan selesai sudah. 

Sepanjang perjalanan dari stasiun Tawang ke Simpang Lima satu hal yang dapat gw simpulkan adalah di Semarang banyak banget pemulung yang tidur di sepanjang jalan, dan di emperan toko/rumah penduduk. Hampir di tiap sudut terlihat. Jadi penasaran kenapa di Semarang begitu banyak pemulung. 

Nyari makan di daerah Simpang Lima, gampang-gampang susah. Banyak tempat makan, tapi pada penuh, pengennya sih lesehan, mo selonjoran nih kaki, udah pegel. Atas usul Ryan kita makan di depan gedung Telkom, makan TAHU GIMBAL, tahu aja gaya lu!!!! Hahaha… Rasanya sih B aja, ga seger, tahu nya asem, udah lama sepertinya. Harga Rp. 10.000 plus the botol Rp. 3.000. Karena tidak mengenyangkan, kami pindah lagi ke tenda yang lain, deket persimpangan sebrang Ramayana. Mmmm….mahalllll!!!! Average price Rp. 35.000,- arrrrgghhh… lihat price list menu, yippieee… lele hanya Rp. 5.000 plus nasi 3.000m that’s the cheapest one, kita mesen lele aja deh. Ternyata lele nya dapet 2 lagi hahaha…bagus lah! Kenyang deh… Mba Eko yang mesen kereng malah sewot, mahal katanya hehehe….

Back to penginapan, naek taksi, 6 orang 1 taksi hahahha… Gw dipangku ama Jo dan Mba Deny, rasakan!!! Tapi gw ringan sih, jadi mereka ga protes tuh ;). Si supir taksi gaul juga. Dia ngajak ngobrol, nanya kami dari mana. Kami cerita “tadi dari stasiun Tawang Pak, trus ke Gereja Blendung, ke Stasiun Poncol, trus ke Simpang Lima jalan kaki…”, “Jalan kaki??”, “Ia Pak”, si supir dengan ekspresif sekali “iddddiiiihhhhhhh….!!!!!”, kami pun ketawa menyadari kebodohan itu. Percakapan dilanjutklan ke Pemilu Caleg hari itu. Si bapak juga golput…sip dah…ternyata pola pikir yang sama, ngapain juga nyontreng, ga kenal juga, trus entar mereka menang juga mikirin gimana balik modal. Sip dah Pak, thanx udah nganterin ke penginapan dan berbagi cerita. Sekitar jam 11 udah tidur…

Day 3 - Jumat, 10 April 2009, Candi Gedong Songo Ungaran, Museum Kereta Api Ambarawa, Rawa Pening, Pagoda Watugong Semarang, Lawang Sewu
Hari ketiga perjalanan panjang lainnya. Perjalanan kali ini ga ngangkot, karena Ryan menghubungi saudaranya Mas Wito dan mas Wito bersedia nemenin jalan hari ini dengan mobil dia. Dijemput jam 8 lewat, trus perjalanan di mulai sekitar jam 8:30. Nyari sarapan dulu di Soto Pak Darno, makan soto plus lumpia plus teh manis anget, Rp. 10.500.

Candi Gedong Songo, Ungaran
Candi Gedong Songo terletak di Ungaran, sekitar 40km ke arah selatan kota Semarang, waktu tempuh sekitar 1 jam 30 menit. Sesuai dengan judulnya Candi Gedong Songo terdiri atas 9 candi yang tersebar di satu kawasan gunung *ga tau nama gunungnya* sejauh 4 km. Tiket masuk ke kawasan candi Rp. 7.000 untuk Wisman Rp. 25.000, hmmm…jauh juga ya jaraknya. Terus terang, gw kurang setuju dengan adanya perbedaan harga antara wisatawan lokal dan wisatawan manca negara. Alasannya ga perlu dibahas deh, yah ga setuju aja :P.

Jasa penyewaan kuda disediakan di kawasan wisata ini, karena memang jarak tempuh untuk ke 9 candi ini totalnya 4 km dan medannya itu agak berat, naek turun. Untuk muter semua candi kena charge Rp. 50.000,- pulang pergi. Kita milih jalan kaki *walau ga bisa di bilang pilihan juga hahaha…*, karena tujuan kita selain berwisata adalah latihan moto. 

The first temple of Gedong Songo
Jarak antar candi jauh, ga nentu, ada yang berjarak 200 m, ada yang jauh sampai 500m. View dari kawasan Candi Gedong Songo ini keren banget, really love it! Belakang candi itu view gunung, depan candi view lembah dan pegunungan, terlihat juga Rawa Pening dari atas… Keren-keren…

Setelah candi ke 3,4, dan 5, ada kawah belerang, asap nya ngepul dari perut bumi. Ada kolam mandi air panas juga, ayo..ayo..yang kudisan, kurap, gatal-gatal dan penyakit kulit lainnya, silahkan berendam dulu hahaa… Yang jerawatan silahkan cuci muka, lebih ampuh kayaknya dari sabun JF Sulfur hehehee…

Jarak candi 3,4, dan 5 yang berada di satu tempat ke candi ke 6 lumayan jauh, hampir satu kilo menurut gw, untung kita ambil jalan motong. Candi ke 6 dalam proses pemugaran, udah ga asli lagi tuh…males dah. Candi ke tujuh udah hancur, batu-batu nya udah berserakan di tanah. Candi ke delapan masih utuh tapi candi disebelahnya udah rusak juga. Duduk-duduk bentar di candi ke delapan sambil ngurangin cape muterin 8 candi, one left to go. Candi ke sembilan berjarak sekitar 200m di depan. Udah laper…jadi percepat langkah menuju ke candi terakhir. 

Dari candi terakhir ke gerbang masuk/keluar jauh juga ada 1km dan jalannya itu nurun, cape ngerem… Mana banyak kuda yang lewat lagi mengganggu jalan, banyak e’e kuda juga di jalanan sebagai ranjau darat, jadi hati-hati kalau jalan, entar bau e’e nya kuda lagi pulang-pulang dari sana.

Setelah trekking mengelilingi candi Gedong Songo yang sangat melelahkan, kita nyari makan di sekitar candi. Warung deket pintu masuk asyik juga tuh. Prasmanan cuy, di kala perut lapar gini pas banget dah tuh… Menu makannya mayan lah, ikan, daging, sayuran. Gw makan ayam goreng plus telor plus banyak sayuran, plus nambah, plus the botol, plus pocari sweat total Rp. 18.000.

Museum Kereta Api Ambarawa & Rawa Pening
Sehabis dari Candi Gedong Songo, perjalanan dilanjutkan menuju Ambarawa. Tujuan utama adalah Museum Kereta Api Ambarawa. Jarak dari Candi Gedong Songo ke Ambarawa ga jauh, ga nyampe 30 menit dari Ungaran. 

One of the train
Retribusi untuk masuk museum Rp. 3.000. Museum terdiri atas 2 bangunan utama. Di dalam museum terdapat benda-benda jadul yang berhubungan dengan perkeretaapian. Nah diluar terdapat kereta-kereta api jaman dulu. Banyak juga kereta-nya, ya ialah namanya juga museum kereta :P. Setiap kereta lengkap dengan nomor serinya. Kereta-kereta ini dirawat dengan baik, di cat dengan warna hitam, merah, dan putih. Warna nya cerah, jadi ga kelihatan kereta tua, hanya dari model nya saja kita bisa menyimpulkan kalau kereta ini kerata lama. Tapi gw setuju, mungkin proses pengecatan dengan cat minyak yang mengkilap ditujukan untuk menghindari kereta yang terbuat dari besi ini mengalami pengkaratan dengan cepat karena terkena air dan panas. Gw ga tau sih kereta ini dari besi apa baja :D.

Kereta-kereta tua ini juga jadi obyek yang seru untuk di foto, dengan model-model cabutan dari para peserta, terutama mba Eko yang senantiasa exist jadi modelnya. Suasana museum juga bagus banget untuk dijadikan background. Sip dah…

The fisherman at Rawa Pening
Di Museum Ambarawa ini juga disediakan jasa tour dengan kereta menuju stasiun Tuntang. Harga tiket Rp. 10.000. Untuk ikut tour ini, silahkan lomba cepet dengan yang lain menuju kereta, karena pembayaran dilakukan di atas kereta yang hanya terdiri dari 3 gerbong, dan cukup untuk sekitar 30 orang, kalau dipaksain bisa sampai 40 orang lah. Waktu tempuh 1 jam pulang pergi. Perjalanan utama melewati Rawa Pening, view nya bagus banget, sawah, rawa dan background gunung yang keren abis… Seandaianya bisa turun dari kereta dan moto-moto seru banget tuh. Kita hanya bisa moto keindahan alam ini dari kereta yang lagi jalan. Tapi ga mengurangi hasilnya juga sih, see this picture.

Pagoda Watugong Semarang
Pagoda Watugong
Dari Ambarawa udah hampir setengah 6, kita balik ke Semarang. Di Semarang kita singgah di Pagoda Watugong. Nama lengkapnya Pagoda Avalokitesvara Buddhagaya Watugong. Pagoda ini diresmikan pada tahun 2006. Pagoda ini ada 7 tingkat. Di halaman pagoda ada patung Dewi Quan Inn dan pohon yang ditanam tahun 1955, udah 50 tahun tuh pohon, dibawah pohon ada patung Budha. Di dalam pagoda sendiri ada patung Buddha yang besar banget. Di luar pagoda ada patung-patung yang mengelilingi pagoda, patung-patungnya tentunya berhubungan dengan Budha, gw lupa nama-nama patung tersebut padahal ada tulisannya.

Lawang Sewu
Dari Pagoda Watugong, dilanjut dengan mencari makan di daerah kampus Undip, makan di warteg, uh…tak kenyang sama sekali, kurang enak, jadi makannya dikit. Tapi ya sutralah… Habis makan dilanjut uji nyali ke Lawang Sewu. Biaya retribusi untuk masuk Lawang Sewu Rp. 5.000/orang, kalau satu rombongan gitu akan disediakan guide untuk nemenin tour Lawang Sewu. Si guide akan menuntun ke ruangan demi ruangan disana ke semua lantai dengan menggunakan sebuah senter. Tempat yang penuh dengan misteri itu sudah berumur hampir seratus tahun (1908). Bangunan lama dengan aura horor. Dulunya Lawang Sewu didirkan sebagai kantor kereta api. Gila, gede bener kantor kereta api, apa sekalian stasiunnya ya?? Hehhee… Pernah juga dipake sebagai kantor tentara *kalo ga salah inget dari penjelasan guide-nya*. Lawang Sewu sendiri berarti pintu seribu, emang banyak banget sih pintunya…

Lawang Sewu at the night
Setelah lama tidak aktif sebagai gedung, dan hanya bangunan kosong, bangunan ini hendak diaktifkan lagi menjadi perkantoran, tapi dilarang oleh pemerintah karena dianggap sebagai bangunan bersejarah. Tapi kabar terakhir dari guide kami, Lawang Sewu ini akan segera diaktifkan lagi jadi kantor, kata guide nya sih 4 bulan kedepan, sekarang sudah dalam tahap perbaikan. Jadi kalau pengen uji nyali ke Lawang Sewu, cepetan…sebelum berubah jadi kantor. Entah kenapa sekarang dapat ijin diaktifin lagi jadi kantor, memang ganti pemerintahan ganti aturan dah... Sayang sekali…

Lawang Sewu juga udah beberapa kali dipake sebagai tempat syuting pilem, Ayat-Ayat Cinta yang terkenal itu juga lokasi syutingnya di Lawang Sewu, juga pilem horor yang judulnya sama dengan bangunan ini, Lawang Sewu. Dan reality show yang berjudul Uji Nyali pun pernah disini.

Tour kami hanya 45 menit, ada satu tempat yang ga kami jalani, yaitu ruangan bawah tanah, karena berair, dan harus nyewa pelampung dan sepatu khusus. Tempat paling serem sebenarnya ruang bawa tanah ini. 

Perjalanan hari ini ditutup di Lawang Sewu, langsung balik ke penginapan. Abis mandi, maen UNO bentar. Lagi main UNO Faisal mengusulkan untuk mesen KFC yang disambut hangat oleh semua kecuali mba Eko yang langsung tidur. Gila, backpacker mesen KFC, apa-apaan itu!!! :D


--to be continued, untuk cerita di Semarang udah selesai...nantikan part 2 nya untuk cerita di Karimun Jawa, segera beredar....--