14 October 2008

Curug Cimahi, 2 Oct 2008

Latar Belakang ;)
Hari kedua Idul Fitri, gw dan teman-teman Sidikalang gw yang terdiri atas Oberland, Anggiat/Iwan, Rika, Irma, Iem dan Raymond adeknya Rika jalan ke Curug Cimahi, Lembang, Bandung, Jawa Barat Indonesia! :D Rencana gw sebenarnya mau ke Maribaya karena disana juga ada curug sekaligus gua Belanda *kata teman gw*. Tapi karena Bandung pada hari kedua lebaran ini macetnya ampun-ampun dan kami juga bergerak udah kesiangan, jam 2, kami pun mengganti tujuan perjalanan yang atas usul dari saudari Iem ke Curug Cimahi, one of my destination list.

Pun sebelum ke Curug Cimahi kami sudah mengganti rencana perjalanan sebenarnya yaitu mau jalan ke Pengalengan, itu dengan pertimbangan kalau Irma dan Iem ga jadi ikutan, karena dua bocah ini susah banget dimintain konfirmasi mau ikutan apa engga, dasar tante-tante centil, katanya mau shopping hari itu. Next question is, kenapa harus bergantung dengan tante yang dua ini?? Nah, di rumah Ober ada mobil yang nganggur dimana muatnya hanya bisa 5 orang pas, ga mungkin lebih, pasti ga nyaman. Kalau mereka berdua ikutan otomatis ga cukup tuh mobil dan motor Ober harus dikerahkan juga, tapi kasihan kalau harus naek motor ke Pengalengan yang cukup jauh dari Bandung, mana cuaca mendung lagi.

Perjalanan
Kami kumpul di depan Kampus Unpad Dipati Ukur, sebelumnya Rika dan Raymond yang rumahnya di daerah Buah Batu datang ke rumah Ober di daerah Antapani. Di Dipati Ukur ketemu Irma dan Iem, complete team, then we move! Ini rencana masih ke Maribaya, Ober dan Iem naek motor, yang laen naek mobil. Kami bergerak, dan terus terang gw ga gitu tau Bandung, kami melewati daerah Ciembeluit terus menuju daerah hmmm... FO Rumah Mode deh pokoknya, trus dipersimpangan situ karena macetnya ga ketulungan, dan hujan mulai turun kami membatalkan rencana ke Maribaya dan memutuskan ke Curug Cimahi saja. Gw ga tau juga rute ke kedua tempat ini bagaimana. Katanya untuk menghindari daerah Kampus UPI (daerah Setia Budi bukan ya??) yang menuju Lembang, dan kami mengambil jalan dari daerah Sarijadi alias kampus Polban. Jalan dari daerah penduduk gt, daerah Parongpong. Lewat The Peak, trus keluarnya itu udah daerah Lembang Kampus Advent.

Dari situ kawasan Curug Cimahi udah deket, tinggal sekitar 5 km. Lewat jembatan yang lagi di perbaikin trus ada tempat berkemah Ciwangun Indah Camp. Nah, abis itu udah masuk ke daerah Curug Cimahi.

Curug Cimahi
Setiba di daerah Curug Cimahi parkiran udah penuh banget, utamanya dengan motor para ABG yang rame-rame datang kesini. Kesimpulan sementara gw, kalau hari libur Curug ini ternyata menjadi favourite juga sebagai salah satu tempat tujuan berlibur bagi warga Bandung sekitarnya, terbukti waktu kami kesana curug ini sangat ramai dengan pengunjung. Tiket masuk ke Curug ini seharga Rp 3.000 per orang. Dari tiket dan plank yang ada disana ternyata Curug Cimahi ini dikelola oleh Perum Perhutani.

Dari gerbang masuknya Curug udah terlihat, debit airnya tidak terlalu besar, tapi ketinggiannya mencapai 70m, tinggi juga, dibanding dengan Curug yang ada di Maribaya kata teman gw ini jauh lebih tinggi, malah kata teman gw curug di Maribaya itu malah kesannya seperti dibuat-buat karena paling hanya 5m, ga alami, karena ada dibawah jembatan gt, malah bagusan air terjun di Sidikalang kata temen gw... :D. Oh ia sekalian promo nih, di Sidikalang juga ada air terjun loh...hehhhe...

Untuk mencapai ke bawah, Perum Perhutani menyediakan jalan berupa anak tangga yang cukup rapi dan aman untuk di jalani, tentunya sebagai pengunjung kita juga harus memperhatikan keselamatan sendiri. Beberapa pinggiran anak tangga di kasih kayu pembatas tapi kebanyakan ga ada pembatas, so be careful and take care. Sepanjang perjalanan ke bawah yang berliku-liku, ada tempat-tempat perhentian bagi orang-orang yang kelelahan. Tempat perhentian berupa warung yang menyediakan minuman baik soft drink atau kopi panas, dan makanan juga, misal supermie2an, sadaaappp... Terus terang selama menuruni anak tangga kaki kiri gw, tepatnya di persendian lutut gw terasa sakit, padahal baru aja beberapa anak tangga, ga tau kenapa. Apa minyak persendiannya udah mulai habis hahahhahaa... *dasar cowo!!!, yang ga ngerti kasihan deh... :P*
You can see this photos to know the situation there.
Jalan ke bawah itu makan waktu 15-20 menit, mungkin kalau anda kuat dan cepat jalannya bisa juga antara 10-15 menit.

As I said before, tingginya sekitar 70m, airnya itu ga jernih, warnanya kecoklatan, dan debit airnya kecil, dan kalau di lihat ke atas, aliran sungai yang menyebabkan adanya curug ini juga ga terlalu lebar, sehingga air yang jatuh itu terlihat tipis.

Kawasan bawah curug ini nyaman untuk dinikmati, di kelola dengan baik, ada batu-batu yang bisa digunakan untuk beristirahat dan menikmati suasana curug. Curug ini di kelilingi pepohonan hijau. Kalau sepi atau ga terlalu ramai seperti sewaktu kami kesana, tempat ini bisa dijadikan tempat untuk menenangkan hati dan pikiran, menikmati hijaunya alam dengan suara gemuruh air yang jatuh dari atas.

Banyak pengunjung yang mandi di curug itu, malah ada yang berani langsung diri tepat dibawah jatunya air. It means airnya ga terlalu deras dan ga dalam. Sayang lupa bawa celana ganti, jadi ga bisa maen air, percuma dong maen ke curug, ia ga? Geblek emang gw, gw udah bawa kaos ganti dan celana dalam ganti, tapi celana luar malah ga bawa *dodol pisan*
Kalau dilihat keatas, jalan raya dan mobil yang melintas terlihat sih...jadi ga jauh dari jalan raya. Ada warung-warung yang jaraknya dibuat tidak terlalu dekat dengan curug, sehingga kesannya rapi dan bersih. Warung-warungnya juga menyediakan minuman baik itu soft drink maupun kopi instan dan supermi2an. Ada toilet yang bisa digunakan, tetep ya harus bayar hehehe...

Aktifitas yang kami lakukan disana hanya foto-foto trus makan supermi dan kopi hangat...tentunya sambil menikmati curug nya... Nikmatnya supermi ini... ;)

Naek ke atas udah kecapean, 25 menit waktu yang kami habiskan hanya menapaki setiap anak tangga ke atas. Pegel oi.... Tapi ga rugi juga sih, I enjoy there...

Maaf, ga bisa share angkot-angkotnya karena ga nangkot, tapi naek mobil yang nganggur, tapi menurut teman gw, kalo mau nangkot bisa dari Terminal Ledeng, so ke terminal Ledeng dulu, trus naek Ledeng-Parongpong, trus naek angkot kuning dari Parongpong entar dia lewat dari Curug Cimahi.

Learning
Kalo ke Curug inget bawa kaos, celana dan celana dalam ganti, jadi bisa maen aer... ;)

13 October 2008

Situ Patengan & Kawah Putih, 28 Sep 2008

Situ Patengan & Kawah Putih, 28 September 2008
My backpacking destination for this time is to Situ Patenggang, Bandung. I have planned to get here in my previous backpacking to Ciwidey, but because some of mistakes in time estimation we don’t have enough time to Situ Patenggang at that time. Sebenarnya ke Situ Patenggang ini juga karena rencana awal mau tour Garut dengan teman Sidikalangku batal, berhubung beliau sudah ada acara backpacking dengan teman SMA nya ke Ujung Genteng, gw da pernah kesana...

Sabtu 27 Sep 08 gw jalan ke Bandung karena bosen banget di kosan dan kosan udah sepi. Jam 2 berangkat dari Travel di Mang Kabayan Margonda Depok, dan sukur banget jalanan blon macet karena arus mudik. Sepanjang perjalanan tol Cikampek sih rame lancer, abis itu masuk tol Padalarang udah lega banget dan tiba di Bandung dengan lama perjalanan 2 jam 25 menit.
Perjalanan
Team kali ini ada 5 orang, gw, Oberland, Meriem, Irma, dan Nico adeknya Irma. Kami kumpul di Dipati Ukur depan Kampus UNPAD untuk naek DAMRI menuju terminal Leuwi Panjang. Rencana awal jam 9:30, Iem udah tiba dengan on time nya. Gw dan Ober tiba tepat pukul 10, karena kami pagi-pagi masak nasi untuk bekal perjalanan trus rumah ober jauh di daerah Antapani, trus nitip motor Ober di RS Boromeus dan jalan dari sana karena ga ada angkot. Paling parah Irma, udah kosan di belakang pool Damri dateng telat lagi, sampai gw dan Ober harus turun dari damri karena udah harus jalan dan mahluk yang satu ini blon dateng. Iem juga karena bosen nunggu kami di pool damri dia pergi nyari nasi hainam, katanya dia ngidam udah dari Jakarta. We lost one Damri and wait the other one.

Finally jam 10:30 berangkat dari Dipati Ukur menggunakan jasa DAMRI menuju terminal Leuwi Panjang dengan ongkos hanya Rp. 2000/orang, murah ya… Lama perjalanan 55 menit, tiba di terminal Leuwi Panjang jam 11:25, agak2 macet dan memang jauh sih…

Dari terminal Leuwi Panjang kami naek mobil Elf jurusan Bandung – Ciwidey. Sebenarnya ada bis dari Bandung ke Ciwidey, tapi lama ngetemnya kata bapak kenek Damri, dan dia lebih mengusulkan naek mobil Elf ini. Oh ia, mobil Elf ini warna nya macem-macem, ada yang item, putih, kuning, merah, dll, intinya liat aja tuisan Bandung – Ciwidey. Tips, Tanya ke supir ato “calo” yang suka teria-teriak di terminal nyariin penumpang, lewat Soreang apa tidak?? Kalo lewat Soreang mending tunggu mobil berikutnya, karena daerah Soerang tuh macet abissss… Mobilnya banyak kok, dan cepet penuh, kami hanya menunggu 5 menit dari mobil kosong dan penuh and ready to go… Ongkos hanya Rp. 7.000 dan lama perjalanan 1 jam 15 menit, 11:30-12:45. Hal yang unik di mobil Elf ini adalah, anda tidak akan mendapat kenyamanan sama sekali, karena kondisi mobil yang rada butut, dan satu baris bangku penumpang diisi oleh 5 orang, tak terkecuali termasuk di depan barisan supir. Untung kami penumpang pertama jadi bisa ambil posisi yang enak dengan mengorbankan penumpang yang di deket pintu yang mepet hihihihii…

Dari terminal Ciwidey, kami naek angkot warna kuning jurusan Terminal Ciwidey – Situ Patenggang, well, ini beneran angkot hanya warna kuning, kalo bukan kuning bukan angkot menuju Situ Patenggag, *udah seperti kuliah matematika diskrit nih ;)* Yang perlu diperhatikan di terminal ini, berhati-hatilah, begitu mobil elf yang anda tumpangi dari Bandung berhenti, banyak banget tukang ojek yang menyambut di pintu mobil sampai penumpangnya susah keluar. Langsung aja bilang mau ke Situ Patenggang, mereka akan berhenti mengejar anda dan menunjuk angkot kuning.

Lama perjalanan dari terminal Ciwidey ke Situ Patenggang lebih kurang 1 jam, kami berangkat pukul 12:50 – 13:45, ongkos Rp. 7.000 plus biaya masuk Situ Patenggang Rp. 4.000, jadi total Rp. 11.000/orang. Sepanjang perjalanan dari terminal Ciwidey ke Situ Patenggang kami melewati gerbang masuk Kawah Putih, Kolam Air Panas Cimanggu, Bumi Perkemahan Ranca Upas, kebun teh Rancabali dan berakhir di Situ Patenggang.

Situ Patenggang
See this picture to know the history of Situ Patengan, and see also the handsome guy…huahahahaa…ada yang keberatan?? Hihihii…
Gw ketik deh disini biar jelas :

“Berasal dari Bahasa Sunda Pateangan-teangan (saling mencari). Mengisahkan cinta putra dan putri titisan dewi yang besar bersama alam. Ki Santang dan Dewi Rengganis, mereka berpisah untuk sekian lama, karena cinta mereka yang begitu dalam mereka saling mencari dan akhirnya dipertemukan kembali di sebuah tempat yang sampai sekarang di namakan “Batu Cinta”. Dewi Rengganis pun minta dibuatkan danau dan sebuah perahu untuk berlayar. Perahu inilah yang sampai sekarang menjadi sebuah pulau yang berbentuk hati (Pulau Asmara/Pulau Sasaka). Menurut cerita ini yang singgah di batu cinta dan mengelilingi pulau asmara senantiasa mendapat cinta yang abadi seperti mereka”

Luas situ patengan 48 ha, itu danaunya doang, daerah disekitar danau yang dijadikan tempat wisata sekitar 17 ha cukup luas dan menyenangkan berada di kawasan situ patengan ini. Dengan pohon-pohon yang membuat sejuk dan tenang suasana. Untuk menenangkan pikiran oke banget deh tempat ini. Danau nya ga luas, tapi daerah sekitarnya itu dikellingi oleh pohon-pohon dan kebun teh. Air danau ini ga jernih, dan agak kotor, sepertinya sih ga ada aliran air yang buat danau ini airnya bertukar.

Untuk lebih menikmati suasana di danau ini, kami menggunakan perahu untuk muter-muter di danau-nya. Ada dua pilihan perahu dayung atau perahu mesin. Perahu dayung, bisa dayung sendiri atau pakai jasa tukang perahu. Harga perahu setelah nego itu Rp. 60.000 dan kami menggunakan perahu mesin, kami membayangkan kecapean nantinya kalo make perahu dayung. Kami mulai mengelilingi danau ini, ga taunya bentar banget udah mendekati Batu Cinta yang menjadi tujuan kedua ketempat ini. And we decided langsung menuju Batu Cinta.
Batu Cinta

“Di Kaki Gunung Patuha yang udaranya sejuk serta panorama alamnya yang indah, terbentang sebuah danau uang konon danau ini mengkisahkan dua insan yang telah lama berpisah (ki Santang dan Dewi Rengganis) karena asmaranya yang begitu dalam akhirnya mereka dipertemukan kembali di sebuah tempat yang sampai sekarang di sebut Batu Cinta. Batu inilah yang menjadi saksi bisu di pertemukannya kembali cinta mereka” Mitos Masyarakat Patengan.

Batu nya bentuknya biasa aja (see the photo), tapi karena mitos yang bilang kalau pasangan kekasih yang pergi kesana akan menjadi pasangan abadi, happily ever after :D, tempat ini menjadi tujuan yang sepertinya kudu, wajib, harus di kunjungi orang-orang yang kesana. Batu ini pun penuh dengan tulisan nama-nama pasangan yang mengabadikan cinta mereka disana.

Sayang gw pergi sendiri, maksud nya bukan dengan pacar, maklum baru putus hehehe… tujuan gw kesana mau refreshing ngilangin penat di kepala ini, dan rasa resah gunda gulana di hati… *hoaaxx…berlebihan banget !!!* Yang jadi pertanyaan gw, kalo gw kesana dan duduk sendiri di batu cinta, apakah gw akan menjadi jomblo seumur hidup?? Huaaaa…tidaaaakkk… Ok, forget it!!! I believe I have someone there that God has been written to me ;) hehehee… Ciayooo…

Diseberang batu cinta ini, ada batu yang lebih tinggi lagi, kami pun naek kesana dan duduk agak lama menikmati suasana disana, suasana danau, hutan-hutan di sekitarnya, trus kebun teh nya. Tenang bangett…dan ga rame, jadi bener-bener untuk menenangkan diri banget deh gw kesana. Mana gw teriak sekencang-kencangnya untuk menghilangkan sesak di dada… *teteup berlebihan :P*

Kita pengennya lebih lama disana, tapi si tukang perahu udah teriak-teriak manggilin kita, karena dia udah ga ada teman ngobrol berhubung perahu yang satu yang lagi bersandar di situ udah pergi dengan rombongannya. Huh! Jadi menyesal nyewa perahu mesin, apalagi pas ngeliat ada sekeluarga yang mendayung sendiri, si bapak mendayung, istri dan anak-anaknya duduk manis menikmati pemandangan sekitar. Hmm…keluarga yang harmonis…

Pulau Cinta

Kenapa disebut Pulau Cinta? Katanya bentuk pulau ini berbentuk LOVE, dan mitosnya, kalau kita berhasil mengelilingi pulau ini satu putaran penuh maka cinta sepasang kekasih pun akan abadi selamanya. Mitosnya sama dengan batu Cinta, so semua yang ada disini bicara soal Cinta… I love talk about LOVE ;)

Sayang, si tukang perahu kami rese, dia ga muterin tuh pulau cinta dan pura-pura budek waktu kami bilangin dan dia malah langsung membawa perahu ketepi dan bersandar. Sialan!!! Udah dibayar mahal juga, mana tadi perjanjian waktu ga terbatas, sampai puas deh pokoknya… halah!!! Ngemeng doang lo!!! Sebel, yang paling sewot adalah saudari Meriem, dia ngomel teruss… Gw da sampe menghibur dia “udah lah Iem…iklaskan aja, lagian mau lihat apalagi???”, “Bah, bukan itu, kan asik muter-muter naek perahu, adem, tenang, kan seru… “ Dia ngomel terus deh, jiwa inang-inangnya keluar… hahaha…

Kebun Teh Rancabali

Nah, setelah si Iem dengan tidak terimanya diperlakukan demikian oleh seorang tukang perahu kami pun berjalan mencari angkot kuning. Begini, awalnya kami naek angkot kuning dari terminal Ciwidey ke Situ Patenggang, karena setiba di Situ Patenggang kami tidak melihat adanya tempat nongkrong angkot kami pun menanyakan ke si bapak supir angkot. Bapaknya nawarin untuk naek angkot dia lagi nanti baliknya, tinggal janjian jam brapa. Karena Ober dan Niko belon pernah ke Kawah Putih, kami sepakat jam 4 ketemu dengan bapak supir angkot di Situ Patenggang supaya ngeburu ke Kawah Putih. Ternyata si bapak ga ada juga, emang sih baru jam 15:30 tapi kalo di pikir-pikir ga mungkin bapaknya sampe lagi di Situ Patenggang jam 4 mengingat perjalanan pulang pergi terminal Ciwidey bisa sampai 2 jam lebih, si bapak pergi aja jam 3 kami lihat dari sana.

Kami pun berjalan ke atas sambil menunggu angkot yang lewat. Kami pun menikmati kebun teh Rancabali, gw sih sempet foto disana. Sewaktu Ober nego dengan angkot kosong yang sedang lewat. Oh ia, sepanjang perjalanan setelah lewat Ranca Upas kita bisa menikmati indahnya kebun teh Rancabali yang bak permadani yang keren abisss… all greeen!!!! Amazing!!!
You can see this picture…

Kawah Putih

Hasil negosiasi yang alot antara Oberland dan supir angkot ternyata tidak membuahkan hasil. Si supir angkot menawarkan paket Rp. 150.000 dari Situ Patenggang ke Kawah Putih trus lanjut ke Terminal Ciwidey. Kami menolak dengan itung2an asal yang kami buat. Kami sepakat hanya diantar di gerbang Kawah Putih, dengan ongkos Rp. 3000 rupiah per orang. Ternyata disepanjang perjalanan si supir angkot udah mikir abis, kalau dia balik juga pasti ga ada penumpang yang naek angkotnya, dan no income. Trus nego lagi, dia bilang Rp. 150.000 dengan gratis 3 orang masuk ke Kawah Putih, kami tidak mau. Trus bilang ke supirnya “udah pak, ga usah kami sampai di gerbangnya aja, trus entar dari sana naek ojek atau bis yang disediain”. Dia mikir lagi, kami menawar Rp. 120.000 termasuk tiket masuk ke Kawah Putih untuk 5 orang. Setelah nego lama akhirnya kami sepakat Rp. 130.000 untuk biaya angkot dari Situ Patenggang, masuk Kawah Putih beserta tiket masuk untuk 5 orang dan balik lagi ke Terminal Ciwidey.

Nah kalo diitung-itung kami sangat beruntung, kenapa? Berdasarkan info di blog bapak Faisal Idris, my office mate, itungannya seperti ini (udah di combine dengan harga actual yang kami dapet disana yah…hehee…). Ongkos dari Situ Patenggang – Gerbang Kawah Putih Rp. 3000/orang, Gerbang Kawah Putih – Kawah Putih (6km) dengan ojek Rp. 20.000/orang pulang pergi, tiket masuk Kawah Putih Rp. 6.000 *kayaknya dulu gw 10.000 deh*, trus angkot dari Kawah Putih – Terminal Ciwidey Rp. 4.000 plus kalo masih ada jam 6-an ;) . Jadi kalo diitung-itung seorang kena Rp. 33.000, kalo di kali 5 orang, udah Rp. 165.000 hehhee…hemat Rp. 35.000 alias 7.000 per orang dan plus nya kami nyaman di angkot dan pasti dapet angkot ke terminal Ciwidey.

Ok, itu kisah perjalanan dan itung-itungan duitnya. Sekarang kita bahas Kawah Putihnya. Perjalanan dari gerbang Kawah Putih ke Kawah Putihnya sejauh 6 km, dan jalannya itu tanjakan *gunung gt loh*. Waktu gw kesana pertama kali bulan Juni lalu jalannya masih rusak, dan banyak bebatuan gitu, sekarang sih udah di perbaikin dan udah lebih mulus lah. Tapi karena tanjakan nya ampun2, angkot kami sangat mengkawatirkan, tapi akhirnya kami selamat juga sampai ke atas. Oh ia, ada hal yang kocak, angkot kami berhenti sebentar di gerbang untuk beli tiket, nah pas disini ada pengamen yang sepertinya mabuk masuk ke angkot, sepanjang perjalanan dari gerbang ke Kawah Putihnya dia nyanyi dengan gitar kecilnya. Orangnya bau alkohol dan abis nyanyi dia coel-coel satu-satu untuk minta duit, dasar nih pengamen… Masa sih sampai disini aja ada pengamen?? Heran gw…merusak aja tuh orang
Tiba di puncak Kawah Putih jam 17:00, mobil pribadi kami ini *alias angkot* diparkir di parkiran yang lumayan luas… Kami mengajak si supir untuk bareng ke kawasan Kawah Putih tapi beliau menolak, ya sudah, bukan salah kami :P *lagian dia orang situ sebenarnya hehehe…*

Hmm… Kawah Putihnya udah ga seindah bulan Juni lalu sewaktu gw pertama kali kesana. Air kawahnya itu surut beberpa meter sehingga terbentuk endapan lumpur di pinggir kawah dan berwarna kuning belerang. Kalo kawahnya sih tetep berwarna turquoise. Cuma karena air kawahnya surut jadi kurang keren pas gw foto. Tapi tempat ini tetap menarik buat gw, keren abis….hamparan pasir putih, dan tebing gunung serta pohon-pohon yang hijau, tetep memukau buat gw… Mantap! Lihat deh foto-foto ini.

Kami disana hanya 45 menit, dan balik lagi ke Bandung, tentunya ke terminal Ciwidey dulu terus nyambung lagi dengan mobil Elf, menuju Terminal Leuwi Panjang. Dari terminal Leuwi Panjang karena udah ga ada bis Damri kami naek angkot Leuwi Panjang – Kalapa, dan Kalapa – Dago. Selamat sampai Bandung dan kami pun kembali ke tempat masing-masing untuk istirahat dan tidurrr…

Nice backpacking… Thanks to my friend yang udah gw paksa nemenin gw di backpacking ini dan buat saudara Faisal Idris yang atas tulisan di blog nya kami bisa menuju tempat ini dengan menggunakan angkot yang tepat dan ga pake acara nyasar hehehe…


Ayoo…backpacking bareng buat yang baca blog gw ini…


02 September 2008

Journey to Ciwidey, 13-15 Jun 2008

Bandung, Ciwidey & Ciater, 13-15 June 2008

It’s a great and fun journey dude! Since we haven’t met for a long time one each other, not exactly all, but since there are some of you haven’t met for more than 9 years since junior high school. I really excited about this journey, even though there are some problem happen when we were in Bandung for the preparation. I’m sorry friend for all the inconvenience, I’m not a good crew for this time, too many mistakes I have done L.

Make bahasa aja deh.

Jumat, 13 Juni 2008
Perjalanan di mulai dengan berangkat dari Jakarta, aku jalan ke Harmoni naek busway, ketemu Rika dan Ady disana, kemudian naek taksi menuju gambir. Tiba di stasiun gambir, oh my god, ga dapet tiket ke gambir padahal baru tengah 6 untuk kereta tengah 8. Asli sial dah! Akhirnya nungguin Oneng dan Dance yang baru akan jalan dari kantor masing-masing di daerah Sudirman dan PRJ. Aslilah mereka baru nyampe jam 7. Setelah itu kita diskusi dan nelpon Iem yang berangkat malam itu juga jam tengah 10 dari daerah Grogol menggunakan jasa travel, akhirnya kita memutuskan berangkat bareng menggunakan travel yang sama, then naek busway lagi ke Grogol, set dah.. jauh bener…

Nyampe di grogol baru jam 8 kurang, kita ber 5 makan dulu di Mall Citra Land, Pasar Senggol (kalo ga salah). Janjian ama Iem di depan RS yang aku lupa namanya, trus ketemuan udah jam 9 lewat. Travel berangkat jam 9:30 p.m. Karena gila nunggu, Rika sampai error nyanyi Yam Ko Rambe di pinggir jalan sambil joget2 sendiri, aslilah banyak kendaraan melambat untuk melihat aksi gila si Rika…. Hahahhaa… Nga rittik si Rika namion…
Perjalanan ke Bandung di mulai jam 10 kurang, karena macet tiba di Bandung udah jam 1 pagi, set dahhh… Si Iem sepanjang perjalanan yang gaoran, di gangguin awak tidur, dicubiti lalap. Ngoceh terus mulutnya, ga diliatnya mamak-mamak dan sepasang kekasih yang lagi asik liatin laptop udah terganggu di belakang, dugaan kami sih, mereka lagi nonton bokep berdua di kursi paling belakang hahahhaa….

Disepanjang perjalanan si Mendas sms-an terus, yang bilang salah naek bis lah, dia naek bis yang ke Garut. Kami sebenarnya ga panik, cuek ajalah, banyak solusi yang dikasih si Iem sebagai orang yang pernah tinggal di Bandung selama 4 tahun kuliah. Tapi secara isi si Mendas yang mencurigakan dan kami menyimpulkan dia pasti hanya bercanda... Huexxxx emang kita gampang di kadalin bro... ga lah yau...!!!

Mendekati Bandung alias keluar tol Pasteur kami udah sms an ama Mulyono, Erlangga dan Dimoris, trio kwek-kwek yang kuliahnya ga kelar-kelar hehehe (sorry bro). “Mul, kami da keluar tol pasteur, kelen dimana??”. Ga ada balasana sms! Sebenarnya kami udah menyiapkan 2 skenario untuk menjemput kami di Bandung dengan jalan malam seperti ini. 2 tim penjemput disiapkan mana yang pertama dateng, supaya kami tidak lama menunggu dan dapet penginapan dengan cepat karena dinginnya kota Bandung.

Karena Mulyono ga bales sms juga, gw nelpon! Diangkat, tapi suaranya ga jelas, ”Mulyono, kalian dimana??? Kami da keluar tol, sekarang udah kek orang dodong di depan BTC...!!!!” ”Seriusan kalian, kalian dimana???” ”Ini serius Mulyono, kalian yang dimana? Dibilangin menjemput bukannya datang malah menghilang” Telepon di kasih ke si Erlangga ” Kami lagi dugem ini Ius di Ciwalk, lagi mabuk air putih si Mulyono, si Dimoris juga da goyang-goyang ga jelas itu!!!” Duh si lappet ini pun masih bisa bercanda dengan kondisi seperti ini, *sok tragis, padahal kami juga hanya ngerjain mereka aja* ”Serius lah kalian lappet, kami da nunggu di depan BTC ini, jam segini udah ga ada angkot lagi...” Zzzzzz ssrrrsrrrr...suara ga jelas, aku tutup, klik! Dan aku ketawa hahahahaaaa.....

Kami akhirnya nego dengan supir travelnya, karena tinggal kami yang blon turun, supaya kami diantar ke daerah antapani, setelah nego harga si sopir setuju dan mau mengantar kami ke daerah Antapani. Tiba di terminal Antapani, tiga mahluk aneh menjemput kami di terminal Antapani, Ober, Ian yang udah duluan tiba dari Indramayu dan Mendas yang akhirnya duluan tiba dari Jakarta padahal rencana awal menyusul dan sok cerita salah naek bis garut hahaha…

Dirumah Ober, kami ngobrol2 sampai jam 3 pagi sambil nungguin Iwan yang dateng dari Purwokerto, udah nyampe di terminal Antapani Iwan di jemput ma Ober. Abis itu ngobrol lagi sampai jam 4 lebih arggghhh… Beginilah kalo teman SMP dan SMA kumpul setelah sekian lama ga bertemu... rame, seru dan ceritanya ga abis2, apalagi setelah banyak yang kerja, topik ngobrolnya pun nambah.

Blon lagi tugas ian sebagai tukang pijat, kami cowo2 bahkan ada cewe yang dia pijat bergiliran malam itu. Aku juga ga tau dari mana dia mendapat kemampuan untuk memijat seenak itu... Kami tau bakat terpendam dia waktu pertama kali jalan bareng ke Jojga bulan April lalu. Waktu SMA bakat ini ga ketahuan, ternyata setelah 6 tahun berpisah bakat yang terpendam itu bisa berkembang dan memberi efek positif bagi kami hahhahaa... Thanx Ian, enak kali pijatanmu untung ga kau buat Pijat Plus Plus di Indramayu sana...bisa ganti pekerjaan kau... ;)

Abis giliran dipijat kami ga langsung bisa tidur juga, padahal si Ober jam 6 harus udah berangkat ke kantor karena ada acara kantor yang dikasih judul ”NISP Day” secara dia kerja di Bank NISP. Setiap udah mulai diem, ada aja yang buka pembicaraan, gubraaaakkk... Sapa yang bisa nutup kuping dia yang bisa tidur duluan hahaha...

Sabtu Pagi, 14 Juni 2008
Pagi-pagi udah berisik banget mahluk2 aneh ini berkotek-kotek, jam 7 udah bangun. Siap-siapppp…Mendas masak air buat kopi, yang laen beres2, awak tinggal tenang hehehe… Sambil ngopi di pagi hari nan dingin di kota Bandung, kami nelpon-nelpon travel untuk nyari mobil sewaan, yang ternyata oh ternyata blon dicariin ama Mulyono birong galot yang telah diperintahkan dari jauh hari sebelumnya untuk nyari mobil. Arggghhh…sebel! Nyari mobil aja jadinya lama banget sampai jam 1 siang, karena ternyata peserta melebihi ekspektasi awal dari hanya 10 yang pasti bilang ikut ternyata jadinya 16 orang!!!! Jadi harus nyewa 2 mobil. Tapi seneng banget sih, teman-teman Sidikalangku kalian sungguh excited dengan acara ini…

Selama acara penantian mobil, kami yang ditinggal, Dance, Mendas, Oneng, Rika yang balik dulu ke kosan adekknya, dan aku Planius Simanullang sudah gelisah, cem betul aja jam 1 siang mereka ga datang juga dengan mobil sewaannya. Udah sms-an terus bilang biar cepet datang, ternyata oh ternyata mereka lama kali…. Rusak lah semua rencana. Yang rencana awal paling lama jam 10 harus udah memulai perjalanan, ini baru jam 2 kami jalan. SMS2 an pun isinya udah emosi semua, ngamuk-ngamuk, ada yang minta maaf ada yang ketakutan hahhaa… Ternyata si Ady blon tau aku kek mana, kok takut kali dia ngamuk-ngamuk awak, padahal yang laen biasa aja hahaha…

Perjalanan pun dimulai setelah aku, dance, oneng dan mendas sangat bosen ngungguin di rumah. Oh ia, selama menunggu hampir 4 jam, kami melakukan hal-hal aneh, karena udah boseeeeeennnn…bersihin rumah, latihan nyanyi, ngobrol, latihan nari, tidur, bolak-balik ke toilet.

Berangkat
Setelah berhitung dengan jumlah 14 orang (13 + 1 adek ober karena ober ga bias ikut siangnya hehehe…) kami berangkat, singgah bentar di depan Telkom Bandung jemput Irma, trus ke Yogya Pasteur untuk belanja cemilan. Banyak kali cemilannya, na mokkusan memang par Sidikalang on. Berangkaaattt… ke Ciwiday, Kawah Putih. Pake acara macet lagi di daerah Kopo, huh! Ditengah kemacetan kami pun berjuang menemukan Ika di tengah jalan yang juga sedang ke Ciwiday bersama teman kampusnya untuk mencari tempat retreat. Mereka ceritanya udah turun dari Ciwiday mau balik ke Jakarta. SMS an sepanjang jalan biar ga sempat kelewatan, akhirnya setelah ternyata kelewatan juga Ika berhasil naek angkot untuk menyusul kami, tepuk tangan buat Ika, keprok,…keprokkk…keprookkkk…

Setelah ketemu Ika, hp berbunyi, dari Dance “Yung, mobil kami ditabrak ma motor, bla..bla…bla…” Aku nga ngeh, cuma bilang ke Angga sebagai supir “Ga, katanya mereka ditabrak ma motor, kita susul mereka ya, mereka lagi minggir katanya…” Angga “…tadi kita udah lewatin mereka…“ Gubrak… “masih sih??, kan kita tadi isi bensin dulu, jadi mereka udah di depan, blon lagi tadi kita nungguin Ika??”, “engga tadi kita udah lewatin, kita sekarang di depan, mereka apv hitam kan??”, huaaaaa… Telpon Dance “Ce, kalian dimana sekarang?? Depan kami ato belakang kami??” “Dibelakang dodol!!! Tadi kalian udah lewat, kami tadi udah minggir kalian lewat aja, tapi udah aman, kami udah mau jalan ini…” “Angga..minggirrr…katanya mereka udah mau jalan, udah aman”. Minggir dan nungguin bentar… Udah ketemu ternyata aman saja… “Udah..udah, nanti aja ceritanya, biar cepet nyampe” kata Iwan.

Kawah Putih - Ciwidey
Perjalanan dilanjutkan sambil ngobrol ngarol ngidul, ngakak ngikik sepanjang jalan. SMS2an dengan mobil satu lagi, yang minta berhenti lah karena kelaperan. Fiuhh…mana udah sore lagi, takut ga keburu, akhirnya ga ada istilah berhenti, jalan terus, hingga tiba di Kawah Putih jam 5 kurang 10. Kami mencoba untuk bernego dengan penjaganya. ”Pak, bayar brapa masuk ke dalam?” ”Brapa orang dek? 1 orang 12rb” ”Wah mahal banget pak, diskon dong, kan udah sore, entar juga di dalam udah ga liat apa-apa lagi...itu udah berkabut banget...” ”Hehehhe....ga bisa dek, 12 rb perorang” Setelah nego panjang kami bayar juga 150.000 2 mobil. Lumayan kami kan 16 orang hehehe....
Masuk ke kawasan Kawah Putih jalannya seperti mau off-road, masih ada yang berbatu-batu. Makan waktu sekitar 15 menit juga masuk ke dalam kawasan. Setiba disana masih banyak rombongan lain yang baru nyampe disini. Di sekitar kawasan banyak penjual minuman dan jagung bakar, ada juga yang menawarkan strawbery pada kami. Tapi first thing first is kencing dulu hahha... Semua pada nyari toilet karena udah kebelet dari tadi. Buat yang ga kebelet langsung jalan kaki menuju Kawah Putih, dimulai dengan adanya anak tangga, dan di depan sana sudah terhampar Kawah Putih dan aroma belerang yang sangat menggoda hidung dan buat sesak nafas.

Kami langsung pasang aksi narsisme dong, secara lokasinya keren banget... Sampai-sampai disana ada sepasang calon pengantin sedang foto pre-wedding. Jauh amat yah foto pre-wedding aja kesini, cape di jalan atuh... :D Tapi memang tempat ini keren banget.... Lihat aja tuh foto-fotonya...

Setelah selesai foto sesion di Kawah Putih, dan memang hari sudah semakin gelap, dan kabut mulai turun, kami beranjak dari sana. Tukang jualan udah pada pulang, dan mobil yang terparkir pun udah tinggal sedikit. Yang tersisa hanya penjual strawbery yang berusaha mencuri hati teman-temanku bahkan penjaga toilet pun udah pulang tuh hehehee...

Teman-temanku membeli strawbery sebagai bekal dan oleh-oleh dari perjalanan ke Kawah Putih, karena kami udah ga sempet berkunjung ke kebon strawbery di daerah Ciwidey. And the journey continue...

Hari sudah mulai gelap, kami langsung pulang ke Bandung, beberapa daerah tujuan lainnya udah ga mungkin untuk dikunjungi mengingat hari sudah gelap. Teman-teman juga udah pada kelaparan semua karena beberapa diantara mereka blon makan siang, dan tadi di perjalanan aku ga kasih ijin untuk istirahat makan karena takut telat sampai di kawah putihnya... and it’s work kan, kalo engga nambah waktu sejam hanya untuk makan.

Makan Malam
Diperjalanan menuju Bandung kami menemukan sebuat tempat makan yang lumayan enak tempatnya, viewnya bagus juga, khas masakan Sunda. Kami berkumpul di satu bilik lesehan yang sangat pas untuk ber 16. Duh...dinginnya...ga sabar menanti masakan hangat untuk perut yang kosong ini.

Ini dia foto tempat makannya, aku lupa namanya apa, tapi enak kok masakannya.


Sehabis makan kami menuju kasir di ruangan utama, disana ada rombongan laen yang sedang makan sambil dangdutan... tarik maaaangggg... dasar orang-orang saraf semua yang jalan, kami ikutan dangdutan walau ga gabung dengan mereka, kami asik sendiri deket pintu hehehee... Untung ga difoto, kalo engga luluh lantah dah harga diri kami hahaha...

Ciater
Perjalanan di lanjut ke Ciater pemandian air panas, oh ia waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam kami keluar dari tempat makan. Perjalanan ke Bandung makan waktu 2 jam. Jadi kami baru tiba di Bandung sekitar jam 11 malam. Diperjalanan menuju Lembang, kami berhenti sebentar untuk istirahat dan ngopi. Di tempat ngopi ini, ada pengamen by request, kocaknya setiap yang kita request mereka (2 orang_red) taunya setengah-setengah, ada juga lagu batak yang dia tau, tapi juga setengah-setengah. Karena lagu yang kita request ga pernah lengkap, akhirnya setiap lagu yang kami request diganti sendiri ama dia, “maaf pisan euy, blon hapal laguna, mau diganti tidak dengan lagu yang ini...” Sunda pisan atuh euy hahhaaa...


Lanjut... kami melanjutkan perjalanan ke Ciater. Tiba di Ciater udah jam 1 pagi. Lagi-lagi sebelum masuk ke kawasan kami nego dulu ama penjaganya, berharap dapet diskon. Yes, it’s work, kami dapat potongan diskon dari si Bapak calo hehehee...

Kami berendam di Ciater kurang lebih 1.5 jam. Dan jam 2:30 pagi kami balik ke Bandung. Rencana perjalanan harus ngobrol terus biar supirnya ga ngantuk, tapi apa daya, kami yang duduk di kursi belakang ketiduran dengan suksesnya. Setelah mau masuk daerah Bandung mereka memutuskan untuk pergi ke daerah Dago Pakar *if i’m not wrong*, katanya daripada ngobrol di rumah mending disini, bah...ga ada cape nya mereka ini. Udah muter mau masuk area Dago Pakar, entah kenapa, gw juga ga tau karena gw terkantuk-kantuk, kami memutuskan untuk pulang saja dan tidur di rumah.




Back To Jakarta
Singkat cerita, *dari hongkong singkat!!!* kami pulang besok harinya di hari Minggu ke tempat masing-masing, ada yang ke Jakarta, Indramayu, Purwokerto dan yang tinggal di Bandung tetap di Bandung tentunya.

Sayonara, till we meet again bro and sist... miss u all...

27 August 2008

Journey to Green Canyon & Pangandaran, 23 – 24 Aug 2008

Pangandaran, Green Canyon, 23 – 24 August 2008

Perjalanan kali ini menuju daerah Pangandaran. Tepatnya tujuan utama adalah Green Canyon di daerah Cijulang, walau belum pernah ke Pangandaran sebelumnya. Tempat ini menjadi menarik buat kami (gw and team :) ) setelah mencari-cari informasi di internet mengenai tempat ini. Dari pengalaman orang-orang yang pergi kesana, tempat ini sangat direkomendasikan untuk di kunjungi. Rencana awal, gw mau jalan bareng ama teman Sidikalang gw tanggal 16-18 Aug, tapi rencana batal karena sangat minim persiapan, mengumpulkan orang yang berpencar dimana-mana itu susah. Teman kantor juga yang dimotori oleh Faisal juga merencanakan pergi kesana akhir Agustus ini. Akhirnya ketemulah tanggal 23-24 Aug kesana berhubung akhir bulan alias tanggal 29 kakak gw wisudaan dan orang tua gw dateng yang otomatis gw ga bisa ikut kalo tanggal segitu. Dari rencana banyak orang alias > 5 orang, akhirnya di hari H yang jadi berangkat Cuma ber tiga!!! Gw, Faisal dan Ida teman Faisal.

Berangkat menuju Banjar
Informasi yang didapat dari lapangan dan berbagai informasi di internet, perjalanan dari Jakarta ke Pangandaran itu ada bis langsung, Budiman, yang berangkat dari Terminal Kampung Rambutan terakhir itu jam 21:00. Karena ke asik an di kantor, bukan karena kerja juga sih, kita telat ke Kp. Rambutan. Kita sibuk nyariin alternatif ke Pangandaran dari Jakarta, nemu alternatif, dari Jakarta – Tasik – Pangandaran. Jam 8 lewat kita baru jalan dengan di anterin supir sewaan tim Enfa asuhan pak Faisal ke terminal Kp. Rambutan.

Diterminal Kp. Rambutan kita di dekatin calo-calo sebegitu turun dari mobil. Kita dengan gaya sok artis menolak untuk di interview hahaha… Karena tujuan pertama adalah warung terdeket untuk beli minum yang sebenarnya ingin menanyakan info lengkapnya. Setelah dapat informasinya kita masuk dengan masih tetap di dekati oleh para wartawan infotainment yang sangat pengen tau kehidupan pribadi kami *ngayal*. Kami melihat satu persatu bis yang berjejer di terminal dan cuex dengan wartawan2 itu *teteup*. Faisal fokus dengan bis jurusan Tasik, sedangkan Ida yang lebih berpengalaman ke daerah ini melihat ada bis jurusan Banjar yang lebih deket ke Pangandaran dari pada bis jurusan Tasik. Setelah nanya sang wartawan *kok kebalik yah?? Yang nanya malah artisnya ke wartawannya* sedikit info yang diperlukan, kami pun naek bis jurusan Banjar, namanya PO Bahagia Utama, bisnya mayan PW sih, ga PW2 banget tapi ada toiletnya, seat nya 2-2, bukan 3-2. Oh ia, harga tiket nya Rp. 55.000/kepala. Bis berangkat jam 22:30.

Sepanjang perjalanan gw and team tidur, mmm…not exactly tidur sih! Gimana mau tidur, susah, gw ga pernah sukses tidur dengan posisi duduk, pasti tidur bentar udah langsung bangun lagi. Tiba di Banjar itu sudah jam 5.00 pagi…berrrr… dingin euy sepanjang perjalanan.

Dari terminal Banjar udah ada angkot yang menunggu untuk menuju Pangandaran, gw lupa nama angkotnya apa, tapi bentuknya seperti Metro Mini, otomatis ini Non AC dan ada orang yang merokok di dalamnya. Duh pagi-pagi udah menghirup udara seger dari rokok itu… Harga tiket dari Banjar – Pangandaran itu Rp. 15.000. Perjalanan memakan waktu 2 jam, berangkat dari Banjar jam 05:17 tiba di terminal Pangandaran sekitar jam 7: 20. Jalannya itu muter-muter buat kami yang terkantuk-kantuk dan lupa pegangan terlempar kekiri dan kanan, lucu sendiri kalo udah sadar… Hehehe… kepentok kiri kepentok kanan, kadang kaget kirain udah jatoh hehee…

Terminal Pangandaran
Di Terminal Pangandaran kami kembali di dekati oleh wartawan infotainment lokal Pangandaran, yaitu para tukang becak, yang sudah melihat gelagat wisatawan lokal yang ga berduit dateng berkunjung ke Pangandaran. Kami ditawari naek becak ke lokasi pantai dan menemani mencari penginapan sampai dapat dengan harga becak Rp. 10.000 per becak. Becak bisa di isi oleh maks 2 orang, jadi 1 becak berisi Faisal dengan tas-tas kami dan satu lagi berisi gw dan Ida. Sepanjang perjalanan naek becak, kami meng interview sang tukang becak, *lagi-lagi kebalik, kok artis yang meng-interview wartawan infotainmentnya??* mengenai Tsunami yang terjadi di Pangandaran sekitar tahun 2007 (2006?) lalu. Ternyata sewaktu Tsunami ada 1000 orang warga yang meninggal dan hotel-hotel daerah sana rusak. Sekarang sih udah mendingan, udah banyak hotel-hotel baru yang terlihat.

Penginapan
Well, lanjut dengan acara pencarian penginapan. Si tukang becak dengan semangat 45 mencarikan penginapan buat kami, Pak Faisal sebenarnya udah punya nama-nama penginapan murah yang dicari dari blog orang-orang yang udah pergi kesana. Ada namanya Puri Sakura, sayangnya lagi penuh, cuma sisa 1 kamar, yang hanya bisa di isi 2 orang dan ga ada extra bed. Batal di Puri Sakura, dilanjutkan dengan pencarian di tempat laen, lagi mahal-mahal euy, katanya lagi high season karena minggu depan udah masuk bulan puasa, jadi minggu ini puncaknya. Akhirnya nemu juga penginapan berbentuk rumah yang terdiri dari 2 kamar dan ada ruang tamunya berisi tv dan sofa, plus kamar mandi yang bak mandinya itu berlumut hijau.. ihhh…mandi air lumut ceritanya. Harga penginapan di kenai biaya Rp. 250.000 semalam. Itu juga denger2 mahal karena biaya calo + lagi high season. Well, no problemo lah…

Green Canyon
Setelah mandi dan persiapan ke Green Canyon (hanya bawa baju ganti sih), kami naek becak lagi menuju terminal Pangandaran. Tetep, intinya naek becak itu Rp. 10.000. Di terminal nyari makan dulu, laper dari pagi blon makan, ini udah jam 10 pagi. Makan pake ayam goreng plus mie plus kangkung Rp. 7.000,murah. Abis makan kami mencari transportasi menuju Green Canyon, tapi gw ke toilet dulu, dan sebalik dari toilet Ida dan Faisal udah sepakat menyewa angkot langsung ke Green Canyon dengan harga Rp. 60.000 di isi bertiga doang, coba kalau ada teman patungan, lebih murah bagi-bagi sawerannya. ;)

Jarak Pangandaran ke Green Canyon itu 26 km. Perjalanan memakan waktu kurang lebih 45 menit. Kalau naek angkot biasa hanya sampai terminal Cijulang, trus dari terminal Cijulang harus naek ojek menuju lokasi dengan harga 10.000/ojek. Setiba di lokasi, kami menuju bagian ticekting, per perahu Rp. 75.000 maksimal 5 orang. Ada 2 orang bule disana, tapi sayang mereka udah beli dulu 1 perahu untuk berdua, they are couple. Kita akhirnya naek satu perahu hanya ber tiga, dengan 2 pemandu perahu. Perjalanan di mulai dengan menyusuri sungai yang tenang, airnya hijau. Awalnya mirip-mirip dengan perjalanan ke Curug Cikaso (Ujung Genteng), tapi bedanya air di Curug Cikaso itu coklat ini hijau. Di kiri-kanan sungai ditumbuhi oleh pohon-pohon dan tanaman yang rindang, membuat suasana disana menjadi sejuk sekali. Ditengah perjalanan perahu kami melihat seekor biawak yang sedang berjemur hehehe…gaya tuh biawak! Bapak tukang perahunya yang nunjukin ke kami, dia menghentikan perahunya agak kami bisa melihat, baik sekali bapak ini, terimakasih Pak!

Perjalanan memakan waktu kurang lebih 10-15 menit menuju ke ujung tempat bersandarnya perahu-perahu karena perjalanan harus di lanjutkan dengan menggunakan seluruh badan, heh?? Maksudnya dengan berjalan trus berenang. Nah di sepanjang perjalanan ini, kami sudah disuguhkan pemandangan yang keren, apalagi udah tiba di inti tujuan. Keren abis dah, la terkataken, kalau kata orang Karo. Indah, menakjubkan, keren, luar biasa! Ini dia foto-fotonya…enjoy yah…
Gw dan Faisal mencoba untuk berenang karena ini satu-satu nya cara untuk pergi ke ujung banget. Dengan alat bantu yang dikenal dengan pelampung, gw dan Faisal beraksi di air melawan arus yang tidak begitu deras, sementara Ida, karena ga bawa baju ganti dia menunggu di tempat mangkal perahunya hehhee… Airnya segar banget…asik buat berenang, tapi untung make pelampung juga sih, kalo engga mah ga kuat. Selama berenang kami memperhatikan kiri-kanan tebing, keren banget, tapi sayang ga ada kamera yang tahan air, jadi kami hanya bisa merekam di kepala kami dan ga bisa diabadikan dalam bentuk sebuah foto.
Ditengah perjalanan menuju ke ujung kami udah kecapean, jadinya memutuskan untuk balik, ga nyampe ujung :(, cape banget soalnya udah jalan malam, trus blon istirahat udah harus berenang lagi di sungai. Oh ia, selagi berenang kami ketemu bule yang kami temui sewaktu di bagian ticketing, dia pengen loncat dari atas batu yang tingginya sekitar 3 meter dari atas sungai, dia ngajakin kami untuk loncat
wanna jump?? I will try it now…”,
no, thank you, I’m afraid”,
come on you have to try it”,
ok, you first and I will think about it…”,
come on…
Hahha…si bule mulai cari jalan supaya bisa naek ke atas batu. Badannya gede, endut…karena bosan nungguin, dan pemandu kami yaitu salah seorang bapak perahu udah ngajak jalan, kami ninggalin si bule tanpa melihat aksinya. Ternyata setelah memutuskan balik dan ga sampai diujung kami ketemu lagi sama si bule dan istrinya, he made a confession hehee… “I didn’t jump, my wife so scare about it…” si istri…”yeah…it’s so dangerous…”. Hehehe…istri nya baek yah… Asik banget orangnya sepertinya. (Loh?? jadi ngebahas istrinya…)

Kami berenang mengikut arus dan ga banyak tenaga terbuang. Yeah…this is cool…one day I will back again to Green Canyon to finish the adventure, sampai ke ujungnya maksud gw hehehe…


Oh ia, kalau berenang ke ujung biasa bisa makan waktu sejam, sementara perahu maksimal biasa 1 jam nungguin kita, kalo lebih katanya kasih biaya tambahan secara suka rela aja, yah itung2 uang tunggu lah. Untungnya juga hari itu Green Canyon lagi ga rame, jadi ga harus ngantri nunggu giliran dapet perahu, kalo udah rame dan ngangtri biasa 1 perahu maksimal 45 menit menunggu pengunjung. Minggu lalu pas libur Kemerdekaan Green Canyon rame banget, jadi antrinya panjang kata supir angkot sewaan kami itu.

Batu Karas Beach
Seru, basah..basah…ganti baju then we decide to go to Batu Karas Beach. Pantai Batu Karas berjarak 7 km dari Green Canyon, dengan jasa ojek seharga 10.000/ojex, kami tiba di pantai Batu Karas. Pantainya biasa aja sih, pas kami disana lagi ada lomba surfing anak-anak dan ada outbond dari mana gt di pantainya. Pantai Batu Karas memang katanya tempat buat surfing walo ombaknya sepertinya kecil banget buat surfing… Ini dia foto pantai Batu Karas.
Sepulang dari Pantai Batu Karas kami berencana balik lagi ke Pangandaran melalui terminal Cijulang. Lagi kami mengunakan jasa ojex Rp. 10.000/ojex. Kami minta jalur “jembatan gantung”, jembatan ini terbuat dari bambu yang diikatkan dengan besi di atas sungai. Beban maksimal jembatan ini adalah 2 motor, atau 4 orang. Bapak ojeknya baek-baek, kami berhenti dulu buat foto-foto disini, ini dia fotonya…
Pantai Pangandaran, Pasir Putih
Dari terminal Cijulang kami naek angkot menuju terminal Pangandaran, harga angkotnya 10.000/orang, apa 15.000 ya? Lupa gw, perjalanannya lamaaaaaaa…ada sejam kalo ga salah. Sempet ketiduran di angkotnya. Capeeeeeee… Dari terminal Pangandaran, lagi menggunakan jasa tukang becak dengan harga yang sama Rp. 10.000/becax. Kami dianterin ke pantai yang rame deket dengan cagar alam dan pasir putih. Setiba di pantai seorang pemuda, halah! mendekati bapak Faisal untuk menawarkan paket wisata disana, dengan biaya Rp 10.000/orang kami naek kapal nelayan menuju pantai pasir putih, ga jauh sih, sebenarnya bisa jalan kaki melewati cagar alam, tapi karena pengen ambil background foto di laut kami jadinya naek kapal, dasar narsis ya, tujuannya buat foto doang.

Di pasir putih ini, bisa snorkling, pantainya bersih dan ga dalam, ada terumbu-terumbu karang gitu, keren euy, tapi airnya lagi surut, mangkanya kapal kami kebentur mulu dengan karang-karang disana. Ada juga orang yang lagi mancing di pantainya. Rame bet! Di pantainya kami disambut oleh monyet-monyet yang bebas berkeliaran di pantai, ada rusa juga, hmmm… ga bahaya kok. Jadi pemandangan yang seru melihat ada monyet-monyet berkeliaran dan loncat dari cabang pohon yang satu ke yang laen. Si Ida beli kacang, karena dipaksa oleh penjual kacang nya sih, untuk diberikan ke si Kiss-Kiss hehehee..nama yang lucuh… “Kiss…kiss…” sambil menjulurkan tangan berisi kacang, si Kiss-Kiss akan datang. Sayangnya si Kiss-Kiss sepertinya bisa mencium aroma kacang yang di senyembunyikan di kantong Ida, si Kiss-Kiss ga mau pergi dan ngikutin Ida kemmana-mana…

Di atas Pasir Putih ini terdapat cagar alam, dimana ada goa Jepang dan hewan-hewan lainnya, macem-mecam sih katanya, cuma utamanya rusa dan monyet.

Setelah berfoto-foto di pasir putih, kami balik ke pantai Pangandaran untuk menantikan sunset. Pak tukang perahu nganterin kami ke dekat cagar alamnya untuk melihat rusa, owww..banyak rusa disana, foto-foto bentar dengan rusa-rusa itu, kami pun beranjak menuju pantai. Yups, this is it…the sunset has come… Lihat deh foto-fotonya…

Makan Malam
Setelah matahari terbenam, kami jalan balik ke penginapan, udah jalan jauh, eh, ga nemu juga persimpangan ke penginapan. Faisal dan Ida udah make acara berdebat kecil “Fa’i sepertinya udah lewat deh…udah jauh gini dan udah sepi lagi…”, “kayaknya blon sih Da, tadi pagi gw juga ke pantai, deket simpangnya itu ada hotel yang lagi di bangun…”, “ia gw juga tadi liat, tapi kayaknya udah lewat deh…”. Secara gw tadi pagi ga jalan ke pantai, jadi gw dengan pasrah ngikut mereka aja. Ga taunya hanya berjarak 20 meter di depan, kami menemukan persimpangannya. Oh ia, sepanjang perjalanan kami nyari tempat makan, eh ga nemu juga tuh…aneh ya…restoran disini dikit, apa semua makan di hotel ya???

Di penginapan mandi dulu baru jalan makan…aseeekkk…makan..makan… Kami menemukan restoran deket penginapan, punya seorang wanita bule, gw lupa nama tempatnya apaan. Restorannya sepi, kami sebenarnya ragu masuk sana, karena petuah orang-orang, kalo baru pertama ke tempat baru, untuk nyari makan itu perhatikan apakah tempat makannya rame pa engga, kalo rame bisa disimpulkan makanannya either itu enak or murah. Kami memesan udang bakar, cumi goreng tepung, capcay, nasi dan minuman, ternyata makannya enak loh…ga pake banget sih, tapi enak! Lumayanlah, secara dibayari Ida juga hehee…makan bertiga menghabiskan duit Rp. 146.000.

Balik ke Jakarta
Sehabis makan, kami balik ke penginapan, trus tidur deh… Pagi-pagi udah siap-siap balik ke Jakarta. Jam 9:20 dari penginapan ke terminal. Di terminal nyari makan, trus bisnya dateng 10:15, bisnya berjudul Budiman, jurusan Bandung. Harga tiket Rp. 33.000. Perjalanan pulang ini menyenangkan walau udah cape, karena lewat beberapa kota di Jawa Barat seperti Tasik dan Garut yang notabene gw blon pernah lewat sebelumnya. Trus agak-agak horor juga, setelah lewat Nagrek, tuh bis mengeluarkan suara-suara aneh hehee…maksud gw sepertinya ada yang lepas deket ban yang menyebabkan terjadi benturan yang buat berisik…haaaaa…ga jelas banget yah gw… gitu deh, intinya tuh bis berisik banget, mana kita duduk di belakang. Kita udah teriak-teriak manggilin supir ga denger dia, kurang ajar! Akhirnya di berhenti dan ngecekin, “udah ga pa pa kok…”, ga pa pa pale lo… berisik nih! Gebleknya tuh bis jalan lagi, masih berisik juga sih, tapi kita udah cuek aja, tapi tiba-tiba “duaarrr…” seperti suara meledak, dan batu kecil dan pasir serta debu masuk ke bis, kami yang di belakang udah panik aja… Udah teriak-teriak si supir tetap ga berhenti, akhirnya kata-kata makian keluar dari mulut gw “anjinggg…berhenti…!!!!” sambil gedor-gedor kaca… (what???). Abis berhenti mereka ngecekin, dan memutuskan memperbaiki sebentar karena harus ada yang di potong, hmm…Bandung masih 21km lagi!

Perjalanan berlanjut dan kami tiba di terminal Caheum Bandung udah jam 5 lewat. Nunggu Damri ke terminal Leuwi Panjang ga ada, mau naik taksi, tukang taksi gadungan nawarin Rp.50.000, nyetop Blue Bird, supirnya serem ama tukang taksi gadungan, kita akhirnya agak jalan ke depan, menjauh dari terminal dan nyetop Blue Bird disana… Tiba di Leuwi Panjang udah mau jam 6. Akhirnya kita pisah, gw naek bis yang ke Rambutan, Faisal dan Ida naek bis yang ke Cempaka Putih… Gw nyampe kosan jam 21:30, cappeeeeee.....


Perjalanan yang menyenangkan... I can’t forget my memories there… It’s wonderful… :)